Senin, 17 Juli 2017

PESTA SEKS DI SURGA

Ceramah
Ustadz Syam
Seorang ustad bilang di surga itu nanti kita akan menikmati pesta seks. Sayang dia tidak merinci pestanya seperti apa. Bagaimana gaya bercinta pesertanya atau apakah di surga nanti ada larangan mengikuti style Kamasutra karena lahir dari kitab berbahasa Sankrit?

Jika saja ustad merinci bagaimana pesta itu berlangaung dan menggambarkan suasananya lebih detil. Plus ekspresi orgasme orang-orang di surga itu, mungkin kita jadi lebih mudah membedakan mana ceramah agama dan yang mana peserta lomba baca cerita stensilan.

Tapi mendengar kata pesta seks yang terbayang adalah ada banyak orang ramai-ramai menikmati hubungan kelamin sebebas-bebasnya. Namanya juga pesta. Apalagi ustad itu bilang apa yang dilarang di dunia akan kita nikmati di surga nanti.

Usta bicara seperti itu di sebuah akiran cara dakwah TransTV. Jemaah yang hadir kebanyakan ibu-ibu muda berjilbab. Entah apa yang ada di fikiran ibu-ibu penonton itu ketika ustad menyebut kata-kata pesta seks. Apakah mereka senang, jijik, jengah, atau justru malah berkhayal masuk surga versi ustad.
Saya yang mendengar dari potongan video youtube hanya bisa komentar kecil, surga kok, kayak film bokep.

Sebagai mahluk beragama yang punya malu kita risih mendengar soal kelamin ini disemburkan dalam sebuah acara ceramah agama di TV yang ditonton umum. Kuping kita jadi gatal.

Makanya cacian pertama harus kita semburkan kepada atasiun TV yang menayangkan acara ini. Kenapa mereka menampilkan ustad berorientasi selangkapan bicara secara bebas?

Jangan mentang-mentang acara agama lalu berfikir bahwa semua isi perut dan celana dalam si ustad bisa diungkapkan secara terbuka di depan publik. Sehingga stasiun TV merasa tidak perlu mensensornya. Karena mereka menyangka seburuk-buruknya ustad adalah sebaik-baiknya bintang bokep.

Kedua yang perlu dipertanyakan siapa sih, penanggungjawab acara tersebut? Apa kreteria mereka untuk memilih seseorang bisa berkoar-koar mengajarkan kitab suci dari sebuah stasiun TV yang ditonton jutaan orang?

TV-TV kita sudah lama diracuni oleh ustad-ustad model begini. Rakyat yang ingin belajar agama jadi mencong otaknya karena disuguhkan pemahaman beragama yang makin aneh. Ibu-ibu polos yang berharap dapat pahala ketika ikut pengajian malah kejeblos pada ajaran agama yang bengkok.

Tampaknya pemerintah perlu mengambil langkah untuk membuat aturan mengenai penceramah agama di TV ini. Ok, kemarin sempat ada usul dari Menteri Agama untuk mensertifikasi para khatib. Mungkin itu memang merepotkan karena masjid sebagian besar dibangun dari swadaya umat. Makanya soal sertifikasi itu akhirnya dikembangkan bahwa pemerintan mau mensensor dakwah. Lalu Menag mundur.

Tapi ini stasiun TV yang menggunakan frekuensi milik publik. Mereka memang punya alat siarnya, punya ijin usaha, punya wewenang menentukan acara. Tapi ingat frekuensi yang digunakan tetaplah tidak bisa dimiliki sendiri. Ada hak publik disana. Jutaan orang yang menyaksikan acara tersebut harus dilindungi dari ajaran bengkok yang disemburkan ustad-ustad karbitan dan kadang-kadang membawa paham radikal.

Jadi wajar saja jika Depag mengambil langkah untuk menyusun kreteria siapa-siapa saja orang yang boleh mengisi ceramah agama di televisi. Apa level pendidikannya, latar belakang keilmuannya, dan bagaimana kemampuan artikulasinya. Jika ada stasiun TV yang tidak mau ikut aturan, jitak aja.

Memang kita agak mebingungkan dengan beberapa tokoh agama belakangan ini. Perihal agama yang dibicarakan melulu yang itu-itu saja : mengkafir-kafirkan orang, menduing-nuding bid'ah, dan soal selangkangan.

"Mas ustad itu tahu gak kalau di Jepang sekarang kekurangan bintang porno pria. Jadi gak perlu nunggu mati, kan?" ujar Bambang Kusnadi.
"Maksudnya, Mbang?"

"Gak ada maksud apa-apa mas," katanya seperti tidak mau meneruskan omongan. "Ini buburnya setengah apa satu, mas?," . Bambang mengalihkan pembicaraan. Lalu dia sibuk menyiapkan bubur ayam untukku.
Load disqus comments

0 komentar