Selasa, 29 Agustus 2017

MASIH BANYAK SARACEN LAIN

Hoax
#Saracen
Apakah setelah Saracen digulung otomatis isu yang mereka lempar akan melempem? Tidak. Saracen adalah puncak gunung es saja. Selain kelompok ini, ada banyak organ-organ lain yang jenis pekerjaannya sama. Menyebarkan fitnah dengan tujuan agar masyarakat terpecah.

Bangunan polanya sama juga. Di media sosial mereka memprovokasi publik dengan berbagai isu. Ketika datang ke pengajian atau masjid ustad-ustad juga membicarakan masalah yang sama. Kali ini dibungkus dengan slogan-slogan agama yang lebih kental. Bahkan lembaga-lembaga keagamaan juga membicarakan soal yang sama.

Saat mereka membaca media mainstream, politisi komplak juga mengkonfirmasi isu yang sama. Tentu saja dengan bahasa masing-masing politisi. Bahasa bersayap biasanya.

Di televisi juga para tokoh di seberang got nada bicaranya seolah mengkonfirmasi berita yang sama.
Semua membentuk jejaring dan pada akhirnya bertujuan untuk menciptakan persepsi. Tidak penting isu yang dibawa benar atau salah, yang penting adalah mengaduk informasi di kepala publik seperti mengaduk akuarium berisi ikan mas koki. Akibatnya ikannya pada mabok.

Apakah mereka tahu bahwa isu yang mereka bawa hanya fitnah belaka? Tahu. Mereka bukan orang bodoh.

Kepintaran mereka karena mereka tahu pasti bahwa sebagian rakyat masih doyan ditipu. Inilah yang jadi ladang persemaiannya. Kenapa rakyat gampang ditipu? Karena terlalu silau dengan simbl-simbol agama. Pokoknya kalau soal agama akal sehatnya tiba-tiba menciut.

Kasus Ahok adalah contoh nyata. Di media sosial Buni Yani memulai aksinya. Lalu diviralkan ribuan orang. Digoreng para politisi. Di kompori oleh ustad-ustad di pengajian maupun kotbah di masjid. Disemarakkan berita TV. Distempel lembaga ulama.

Semua bermain seperti orkestra yang senada.

Belajar dari keberhasilan menyingkirkan Ahok, pola yang sama akan digunakan lagi pada berbagai Pilkada atau Pilpres. Sebetulnya sejak Pilpres 2014 lalu juga sudah dicobakan strategi sejenis. Ada yang menyebarkan isu lewat Obor Rakyat, diviralkan melalui media, group WA dan sebagainya. Ustad-ustad di pengajian menimpali isu itu. Politisi itu bicara seolah membenarkannya. Padahal mereka tahu, semuanya adalah fitnah belaka.

Kenapa mereka sibuk menyebarkan fitnah? Pertama, orang-orang yang tidak punya prestasi tidak mungkin bisa merebut kekuasaan dengan jalan normal. Kekuasaan hanya bisa direbut ketika rakyat sudah mabok isu. Seperti ikan mas koki.

Kedua, di belakang kepentingan politiik praktis tersebut, ada kelompok ideologis yang juga mau menguasai Indonesia dengan cara merampas kekuasaan secara ilegal. Kelompok khilafah dan kaum radikal yang teriak penegakkan syariat ada di barisan ini. Mereka sadar tujuannya hanya bisa dicapai dengan membuat suasana konflik. Konflik akan membuat orang berfikir tidak sehat. Lalu sebagian orang akan mencari perlindungan atas kesemrawutan yang terjadi. Nah, datanglah mereka nanti dengan bendera agama. Menawarkan perlindungan atau jalan keluar.

Jadi mereka mengadu domba sesama rakyat dengan menyebarkan fitnah. Kalau rakyat sudah pada berkelahi, saling bunuh, saling kafirkan, saling meneteskan darah, saling serang mereka akan memetik manfaat dari suasana seperti itu.

Kelompok Saracen adalah salah satu yang bergerak karena motif ekonomi. Mereka menjual fitnah dengan harga mahal. Kliennya adalah para politisi yang malas membangun integritas dan tidak berprestasi tapi libido berkuasanya sudah di ubun-ubun. Ketimbang pemilih berfikir rasional dan mempertimbangan kapabilitas dan kualitas para calon pemimpin, mending otak memilih diobok-obok dengan isu agama. Jadi calon jenis kutu kupretpun, tetap berpeluang dipilih rakyat.

Apakah kegiatan sejenis Saracen akan menghilang setelah ditangkap polisi? Tidak. Mereka akan bermetemorphosa dalam bentuk lain.

Cukuplah umat Islam yang unyu-unyu ini ditipu oleh Fisrt Travel. Atau ditipu investasi bodong berstempel MUI. Atau dikadalin Dimas Kanjeng dan Aa Gatot. Kalau saya sih, mikirnya, saat ini politik yang gemar membawa-bawa slogan agama lebih banyak digunakan untuk menipu. Jadi jangan mau dibohongi lagi.
Load disqus comments

0 komentar