Senin, 18 September 2017

LAMARAN PKI

Partai Komunis Indonesia
Isu PKI
"Kalau saya PKI, apakah kamu akan tetap mau menikah denganku?," akhirnya suara lelaki itu terdengar juga. Angin berhembus pelan. Mereka duduk berdua memandang langit senja di kejauhan.

"Terimakasih mas, kamu sudah berterus terang." Perempuan itu menjawab. Suaranya lembut. Ujung rambutnya dimainkan angin. Menutupi sebagian wajahnya.

"Kamu benar mau menikah denganku? Aku ini PKI," lelaki itu menegaskan lagi. Sepertinya sekali pembicaraan belumlah cukup.

"Iya. Kita akan segera menikah, mas. Kamu PKI. Aku Gerwani. Kita klop." Lalu dia merebahkan kepalanya di dada lelaki itu. Telinganya menangkap detak sayup. Ritmis. Pelan dan tenang. Dia merasakan suasana nyaman. Seperti laut di depan mereka malam itu. Hanya ombak kecil memainkan botol air mineral.

"Mas, boleh aku tahu apa maharmu nanti. Apa yang kau rencanakan untuk kau berikan padaku sebagai mas kawin."

"Aku gak punya ide lain, dik. Seperti orang-orang lain, aku akan memberimu seperangkat alat sholat. Tunai."

"Lho, katanya kamu atheis?"
"Emangnya kamu mau diberi mas kawin seperangkat alat petukangan?"
"Ada palu dan arit juga?"
"Hus. Jangan bicara keras-keras. Nanti kita didatangi FPI."
Sang perempuan tersenyum. Dia suka melihat wajah kekasihnya ketika sedang khawatir. Raut seperti ini yang setiap malam dia rindukan.
"Tapi mas, kenapa kau tidak meminangku dengan Bismillah?"
"Ingat, dik. Aku ini PKI dan kamu Gerwani. Kita juga bukan jamaah pengajian kampus. Berdoa saja, dik. Supaya kita menjadi kekuarga sakinah mawaddah warrahmah..."

"Subhanallah, mas. Syukron..." tanpa disadari matanya basah.
Load disqus comments

0 komentar