Minggu, 03 Desember 2017

PERSIAPAN MENUJU KHILAFAH

Alumni 212
Bendera HTI
Kata ketua MUI Kyai Maruf Amin, "Untuk apa ada reuni 212. Persoalan Ahok sudah selesai."

Ah, Kyai Maruf kayak gak tahu aja. Gerakan ini memang bukan cuma mensasar Ahok. Jadi gak otomatis bubar ketika kasus Ahok selesai. Ahok hanya sasaran antara. Sasaran berikutnya jelas yang lebih tinggi dari sekadar Gubernur.

Lihat saja komentar seorang tua tentang Jokowi dalam sambutannya. Dia bilang Jokowi memecah belah umat Islam. Padahal dia yang kemana-mana memusuhi Presiden. Atau statemen seorang politisi yang nyinyiri Jokowi yang memilih menghadiri acara para guru di Bekasi, ketimbang ontran-ontran di Monas.

Ada beberapa pihak yang mau mengambil manfaat dari kumpulan 700 triliun manusia di Monas tadi pagi. Pertama adalah mereka yang ingin meraup suara untuk Pemilu 2019. Dari kelompok ini ada mister 08, yang menurut kabar bukunya dibagikan kepada peserta reuni tanpa sekolahan itu.

Orang kedua yang mau memetik manfaat elektoral adalah Gubernur. Dia datang -seperti biasa- bicara dengan bahasa yang manis. Dia juga yang memberikan rekomendasi digunakannya lapangan Monas untuk acara ini. Bahkan dengan menngubah surat keputusan Gubernur sebelumnya yang melarang Monas dijadikan lokasi kegiatan keagamaan karena memang lahan milik semua agama.
Ketiga adalah PKS, yang berharap gelora semangat Islam politik ini akan berdampak pada kenaikan suaranya nanti pada Pemilu. Makanya PKS adalah partai yang paling ngotot untuk urusan reuni 212. Salah seorang pentolannya, HNW juga ikut berbicara di panggung.

Yang keempat --ini yang paling berbahaya-- adalah mereka yang terus menerus mendesakkan berdirinya khilafah. Meski secara hukum organisasi HTI dibubarkan, tapi rupanya keinginan mengubah Indonesia itu masih menggelora.
Jika ketiga pihak di atas, orientasinya yang penting dapat suara dalam Pemilu nanti. Berbeda dengan kelompok terakhir. Mereka mengharamkan Pemilu dan tujuannya justru mau mengubah dasar negara.

Mau bukti? Bendera-bendera HTI bertebaran di acara tadi. Juga spanduk-spanduk seruan menegakkan khilafah.

Salah satu usaha mereka untuk meletakkan pondasi sistem khilafah adalah dengan memaklumatkan lagi pengangkatan Rizieq Shihab sebagai Imam Besar pada acara hari ini. Apa tujuannya? Buat mempersiapkan khilafah-khilafahan itu.
Pengangkatan Rizieq sebagai Imam Besar pada tahun lalu (sebelum buron karena kasus mesum), lalu sekarang digaungkan lagi, menurut saya bukan perkara main-main. Ini bukan seperti melantik Fahrurozi jadi Gubernur-gunernuran. Tapi, itu adalah sebuah landasan yang mereka persiapkan.

Memang namanya sekarang baru Imam Besar (entah apanya yang besar). Artinya belum menggunakan term khilafah seperti Abubakar Albagdhadi. Tapi logikanya, ini bukan seperti mengangkat marbot masjid. Ini adalah sebuah jalan yang sedang diretas untuk menggantikan sistem pemerintahan Indonesia.

Bahasanya boleh dihaluskan menjadi Jakarta bersyariah. Atau Indonesia bersyariah. Tapi kita tahu ujungnya.

Jadi reuni ini tidak ada urusannya sama Ahok, seperti yang diherankan Ketua MUI Kyai Makruf Amin.

Ini adalah gerakan politik yang mencampurkan berbagai macam kepentingan. Ini adalah tambang suara umat Islam yang dianggap mudah digiring-giring, sesuai kepentingan penggiringnya.


Padahal Giring Nidji sudah jadi kader PSI. Dia jadi pendukung Jokowi yang militan.
Load disqus comments

0 komentar