Kamis, 22 Maret 2018

MENGHAYAL INDONESIA BUBAR


Fiksi
Ghost Fleet
Ketika Muhamad Yamin menuliskan naskah Soempah Pemuda pada Kongres Pemuda II, 1928, adakah dia berfikir Indonesia akan bubar?

Imajinasi Yamin soal Indonesia, jauh sebelum kemerdekaan adalah imajinasi yang puitis dan patriotis. Anak-anak muda dari berbagai suku dan agama bersatu, meneriakkan semangat bersama tentang Indonesia.

Ketika Soekarno-Hatta membacakan teks Proklamasi pagi hari di bulan Ramadhan 1945, adakah mereka berfikir Indonesia akan bubar? Mimpi Soekarno dan Hatta tentang Indonesia, juga mimpi anak-anak muda yang bergelora saat itu adalah mimpi soal masa depan sebuah bangsa. Dimana rakyat dipersatukan dengan harapan bersama untuk hidup berdampingan. Bersatu dalam perbedaan.

Ketika dalam rapat BPUPKI Ki Bagus Hadikusumo sepakat untuk menghilangkan beberapa frasa dari sila pertama Pancasila (Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya) lalu diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, apakah sembilan tokoh yang duduk disana berfikir Indonesia akan bubar?

Ketika arek-arek Surabaya dengan gagah berani menantang pendudukan kembali Belanda di bumi Indonesia. Tidak peduli latar belakang mereka, ada santri, gali, preman, pemuda dari berbagai ideologi dan agama, semua berani mengorbankan nyawanya demi sebuah negara yang baru saja Merdeka, adakah mereka berfikir Indonesia akan bubar?

Ketika kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia dengan ikhlas mempersatukan dirinya dan menyerahkan kekuasaannya di bawah panji Indonesia, apakah para penguasa daerah itu berfikir Indonesia akan bubar?

Tidak. Imajinasi mereka adalah imajinasi tentang sebuah bangsa yang bersatu. Sebuah ikatan abstrak, yang disatukan oleh rasa senasib sepenanggungan. Bukan hanya imajinasi tentang wilayah dengan garis-garis batas di peta bumi, tetapi juga tentang rasa mengenai kampung halaman dan sebuah negeri.

Imajinasi tentang tanah air inilah yang bisa melelehkan air mata ketika kita mendengar lagu Tanah Airku, dinyanyikan dengan syahdu. "...Tempat berlindung dihari tua, sampai akhir menutup mata..."

Lalu siapakah yang punya imajinasi untuk membubarkan Indonesia?

Para pemberontak, baik sparatis maupun ideologis sejak dulu memang berkeinginan membubarkan Indonesia. DI/TII atau kelompok Kahar Muzakar adalah pemberontak dengan jargon ideologis. Mereka memaksa Indonesia untuk ikut kemauannya menjadi negara agama.

Atau RMS yang diketahui sebagai boneka adalah gerakan sparatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Ada lagi kelompok lain yang tida sabar dengan proses Indonesia menjadi sebuah bangsa, lalu mengobarkan pemberontaan PRRI/Permesta. Sejarah membuktikan keterlibatan CIA dan AS dalam kelompok ini. Terbukti, salah satu pesawat tempur mereka yang berhasil ditembak jatuh TNI nyatanya dipiloti oleh
Allan L. Pope, seorang WNA Amerika Serikat.

Karena keterlibatannya dalam PRRI/Permesta inilah Soemitro Djojohadikusomo, ayah Prabowo Soebianto, sempat hijrah ke luar negeri menghindari penangkapan. Di jaman Orde Baru angin politik berubah. Soeharto memanggil kembali Soemitro ke tanah air, untuk membantu mengarsiteki ekonomi Indonesia.

Pemberontakan model begini sudah lama dipadamkan. Jikapun masih ada letupannya hanya kecil saja. Tapi ada gerakan baru yang tujuannya sama, membubarkan Indonesia.

Mereka adalah sekelompok orang yang hendak memaksakan keyakinannya sendiri. HTI mencela demokrasi dan hendak menggantinya dengan sistem khilafah dunia. Bagi HTI, Indonesia hanyalah wilayah kecil di bawah kekuasaan khilafah dunia.

Bayangkan, ketika ratusan nyawa melayang untuk merebut kemerdekaan agar bangsa ini bisa berdiri di kakinya sendiri, merumuskan hidupnya sendiri, HTI dengan enteng memperjuangkan Indonesia untuk jadi sekelas kecamatan dalam sistem khilafah dunia. Mereka mau membubarkan Indonesia.

Atau orang-orang yang memaksakan Indonesia menjadi negara syariah, berimajinasi tentang pembubaran Indonesia. Sebab bagaimana wilayah Indonesia Timur yang sebagian penduduknya bukan muslim, bisa menerima penjajahan ideologi gaya baru semacam itu?

Atau mereka yang sibuk menungangi agama sebagai jargon kepentingan politiknya. Agama yang semestinya diyakini sebagai ajaran luhur, diperskosa untuk memenangkan kelompok politiknya saja.

Atau sebagian masyarakat yang selalu mencela-cela bangsanya sendiri. Padahal saat ini mata dunia sedang memandang Indonesia dengan penuh kekaguman. Sementara sebagian kampret malah mengagungkan Presiden Turki Erdogan sambil mencela presiden Jokowi. Padahal di Turki, Erdogan menggunakan tangan besi untuk memberangus setiap pengkritiknya. Sedangkan mereka disini bebas nyinyir seenak udelnya sendiri.

Mereka inilah yang terus menerus berusaha membubarkan Indonesia. Imajinasi mereka tentang Indonesia, berbeda dengan imajinasi para pendiri Republik ini.

Tapi kita punya TNI dan Polri. Kita punya anak-anak muda yang terus menerus menyalakan kecintaannya pada bangsa. Kita punya rakyat yang sadar bahwa keindonesiaan perlu dirawat. Perlu dijaga dengan sekuat tenaga dari tangan yang hendak menghancurkannya.

Kita punya hak mengusir setiap kelompok yang berimajinasi tentang pembubaran Indonesia.

Tapi kenapa Prabowo Soebianto bicara Indonesia bisa bubar pada 2030?

Jangan terlalu dipikirkan. Omongan Prabowo itu, hanya didasarkan dari sebuah kisah fiksi dalam novel Gosht Fleet karangan P. W. Singer dan August Cole. Seperti orang yang yakin kiamat terjadi pada 2012, karena ada filmnya. Atau orang yang berfikir Al-Masih itu memiliki keturunan sehabis dia membaca De Davinci Code.

Atau kita bisa bilang Benyamin biang kerok, pada dalam kehidupan pribadinya Benyamin Suaeb tidak begitu. Begitulah kita seharusnya memandang statemen Prabowo.

Kita bisa membedakan sebuah fiksi dan karya ilmiah. Kita bisa membedakan prediksi ilmiah dan imajinasi pengarang novel. Kalau Prabowo tidak bisa membedakannya isi novel dengan karya ilmiah, itu teserah dia. Jika dia mau mencapuradukkan khayalan dengan kenyataan, itu hak dia sendiri. Kita tidak bisa mengintervensi keyakinan dan cara hidup orang lain.

Cuma saya kadang bertanya, apakah Prabowo pernah membaca sebuah cerpen karangan Kuntowijoyo yang berjudul 'Laki-laki yang Kawin dengan Peri'?
Load disqus comments

0 komentar