Minggu, 22 April 2018

Apakah Agama Mewajibkan Menikmati Penderitaan Orang Lain?


Hukum Cambuk
Hukum Cambuk Aceh
Ketika ujung cambuk itu menerpa punggungnya, ada rasa perih yang dialami. Tapi sorakan penonton yang bergemuruh saat algojo melayangkan pukulan, jauh lebih menyakitinya.

Adakah mereka --para penonton itu-- menikmatinya? Apakah mereka senang dengan suasana seperti itu? Adakah mereka berempati seandainya dia atau keluarganya yang duduk di atas panggung? Menghadapi algojo yang melecutkan cambuk ke punggungnya.

Abi (bukan nama asli) merasakan, bagaimana suara gemuruh itu terus berdengung di telinganya. Dia adalah seorang korban hukuman cambuk di Aceh. Ditonton oleh banyak orang. Lelaki dan perempuan. Tua muda. Dia merasa sedang ditikam dari dua sisi. Tubuhnya sakit menerima hukuman. Hatinya luka akibat teriakan itu.

Orang berjejal. Begitu mereka melihat seorang pesakitan didera cambuk, mereka bersorak gegap gempita. Seperti menyoraki sebuah kemenangan. Seperti menikmati tontotan yang mengasyikkan melihat seorang terhukum menjerit dan meringis menghadapi cambukan. Seperti tertawa di atas tubuh yang luka dan rasa malu yang mendera.

Apa yang mereka nikmati? Rasa sakit seorang tertuduh ketika dihantam punggungnya? Atau sorakan itu jadi semacam umpatan perasaan bahwa mereka lebih suci dibanding orang yang dihukum di hadapannya?

Aceh saat ini mengajarkan, bagaimana hukuman selain menyakiti juga harus mempermalukan. Harus menjadi semacam alat pembersih dan pernyataan bahwa para penonton dan algojo jauh lebih suci dibanding sang terhukum.

Kemarin Gubernur Aceh Irwandi hendak mengubah pola hukuman. Kebengisan algojo yang tadinya dipertontonkan di depan khalayak, hendak dipindahkan ke penjara. Agar hukuman tetap dijalankan dan masyarakat tidak menjadi kehilangan empati kemanusiaannya. Hanya orang yang hatinya gelap yang bersorak begitu kesakitan menimpa orang lain. Hanya masyarakat aneh yang bisa menikmati tontotan seperti itu.

Tapi rencana Gubernur diprotes FPI. Mereka menggelar demonstrasi menentangnya. Organisasi ini berkilah, hukuman cambuk yang tidak ditonton banyak orang bukan hukum Islam. Mungkin bagi FPI, masyarakat Islam adalah masyarakat yang memuja kekerasan. Masyarakat yang bersorak ketika suara cetar menimpa punggung seorang terpidana. Masyarakat yang suka melihat darah.

Bagi FPI seorang terpidana, layak dipermalukan. Layak dihinakan. Layak dinikmati kesakitannya. Menikmati kesakitan orang lain, mungkin saja dapat membasuh dahaga purbanya terhadap kekerasan dan kebuasan. Jadi menonton hukum cambuk adalah sejenis hiburan tersendiri.

Aceh sejak lama berjuang untuk mendapatkan wewenang atas tanahnya. Di jaman Orba orang Aceh ditindas dan mereka merasa dijajah Jawa. Kini Aceh telah otonom. Mereka mengatur dirinya sendiri.

Yang didapati masyarakat Aceh ternyata hanya tontonan seperti ini.

Kehidupan masih biasa saja. Ekonomi bergerak lambat. Korupsi marak. Tapi menonton hukum cambuk jadi hiburan masyarakatnya.

Ini di Indonesia. Ini di Aceh.
Load disqus comments

0 komentar