Sabtu, 14 April 2018

HOAX DAN RUDAL MENYERANG SURIAH

Konflik Suriah
Perang Suriah

Goutha Timur hampir bisa dikuasai pemerintah Suriah. Para pemberontak yang dipasok dari berbagai negara mulai terpojok. ISIS sudah duluan babak belur. Rakyat Suriah bergembira ketika sebentar lagi negerinya akan terlepas dari cengkraman kaum bigot yang memanipulasi nama Allah untuk merusak peradaban.

Tapi kegembiraan itu sirna. Seperti biasa, ketika kemenangan pasukan pemerintah menghadapi para penjajah dan pemberontak sudah terwujud dengan kembali berkibarnya bendera nasional Suriah di Douma, mulai dimainkan skenario busuk : senjata kimia.

Polanya sama seperti ketika AS dam NATO ingin menumbangkan Saddam Husein di Irak. Tuduhan Irak memiliki senjata kimia. Sampai Sadam tumbang dan Irak hancur lebur, tidak ditemukan senjata kimia di sana. Kita tahu, intervensi militer di Irak adalah serangan yang didasarkan pada hoax.

Akibatnya dasyat. ISIS memasuki Irak, menyembelih banyak ulama dam warga yang tidak berdosa.

Di Suriah hoax yang sama akan dimainkan. Bedanya kali ini mengunakan kampanye video buatan. Melalui tangan White Helmet --organisasi partisan berkedok LSM-- tuduhan pemerintah Assad melakukan serangan senjata kimia itu disebarkan.

Buat apa Asaad menyerang dengan senjata kimia, jika pasukannya sebentar lagi menguasai Ghouta?

Apa tujuan hoax itu? Agar AS, Saudi Arabia dan Nato punya alasan untuk langsung menyerang Suriah. Membombardir Suriah dengan rudal dan kekuatan penuh. Membunuhi rakyat Suriah tanpa pilih-pilih lokasi.

Hari-hari belakangan ini, misil dan rudal sedang ditembakkan AS dan sekutunya ke Damaskus. Perancis yang pertama teriak soal senjata kimia, sampai selarang belum juga menyodorkan bukti konkrit. Tapi penghancuran sudah dilakukan.

Bisa dipastikan serangan itu akan melemahkan pasukan pemerintah. Lalu kaum pemberontak akan dibangkitkan lagi. ISIS yang sudah terkaing-kaing punya peluang lagi untuk menyusun kekacauan baru. Al Qaedah akan merajalela lagi. Dan rakyat Suriah menderita lagi.

Di Indonesia, seperti biasanya ketika ISIS, kaum jihadis dan pemberontak sedang mengalami kekalahan di Suriah, akan dibangun narasi untuk membelanya. Tagar save-savean dinaikkan. Para penjaja sedekah mulai berkeliaran.

Saat Aleppo dibebaskan dari tangan ISIS dan para jihadis, di Indonesia bertebar spanduk save Aleppo. Saat Ghouta sebentar lagi dikuasai rakyat dan pasukan pemerintah Suriah, beredar juga save Ghouta.

Logika para penjaja sedekah itu persis seperti AS dan sekutunya. Kalau ISIS dan pemberontak terdesak di Suriah, dengan segala cara mereka akan membantu. Bukan membantu rakyat Suriah, tapi justru menyokong para pengacau untuk mengalahkan militer Suriah. Mereka membantu kelompok yang justru membuat sengsara rakyat Suriah.

Kini Damaskus sedang dihujani rudal. AS, Inggris dan Perancis bernafsu meluluhlantakan Suriah. Mereka dibantu Israel dan Saudi Arabia. Jerit tangis dan kesengsaraan rakyat terdengar lagi.

Pasukan bonekanya berhasil didesak mundur oleh pemerintah Suriah. Itulah yang menbuat tangan AS dan sekutunya makin gatal. Kini mereka sendiri yang turun menghajar Bashar Asaad.

Di Indonesia, kepentingan AS dan sekutunya itu juga disuarakan orang-orang sejenis Somad dan Bahtiar Nasir. Sama seperti Donald Trump, Somad juga membenci Bashar Assad. Trump memerintahkan pasukannya menghujani Suriah dengan rudal. Somad menembakkan rudal fitnah kepada pemerintahan Suriah.

Kata orang, kambing memang hanya cocok berkumpul dengan kambing.
Load disqus comments

0 komentar