Minggu, 22 April 2018

JANGAN BERBURU DI KEBUN BINATANG

Jokowi
Jokowi

Teman saya berseberangan aspirasi politik dengan saya. Dia anti Jokowi, saya termasuk pendukung Jokowi aktif. Tapi ketika makan bubur, dia sama dengan saya : samasama gak diaduk.

Dengan dia saya lebih suka bicara soal bubur ketimbang soal Pilpres. Diantara perbedaan ternyata masih banyak persamaan yang kami miliki. Dulu waktu SMU, kami malah pernah sama-sama ngejar gebetan yang sama. Jadi kalau ketemu dia lebih asyik ngobrolin soal mantan gebetan, ketimbang soal politik.

Kami tahu kami berbeda. Tapi kami tahu juga, kami masih bisa berteman. Sebab masih banyak persamaan yang bisa dinikmati bersama.

Teman lain bukan pendukung Ahok, saya sebaliknya. Tapi ketika ngobrol soal dangdut, kami ternyata sama-sama anggota Evi Tamala fans club.

Teman saya yang lain seorang muslim taat. Celananya cingkrang dan pandangan agamanya sedikit keras. Dia ternyata fans berat Jokowi. Alasannya, Jokowi adalah Presiden Indonesia yang paling menghormati ulama. "Buktinya dia paling sering mendatangi pesantren. Perlakuan personalnya pada ulama juga membuat adem."

Saya sepakat dengan penilaiannya terhadap Jokowi, meskipun jika bicara soal tata cara beragama, saya bisa saja berbeda pendapat dengannya.

Teman lainnya adalah pembela Prabowo. Tapi dia lebih suka melihat orang naik motor Chopper ketimbang naik kuda. Dia juga gak terlalu suka melihat foto Prabowo yang diarak telanjang dada. Tapi di sisi lain, dia menyukai sikap yang berapi-api. Padahal dia sendiri orang yang pendiam.

Dunia memang tidak melulu hitam putih. Kita bisa sama dalam satu soal, lalu berbeda pada persoalan lainnya. Itu biasa. Manusia tidak hidup dalam satu dimensi.

Orang yang hanya memandang dunia secara hitam putih, seringkali gagal menangkap nuansa dan keindahan. Apalagi jika pandangan hitam putihnya karena masalah agama. Apalagi jika agama sudah ditempeli kepentingan politik.

Banyak orang yang membagi manusia lain cuma terdiri dari dua golongan : golongan kita dan golongan mereka. Dalam bahasa agama --seagama atau kafir. Jika seagama dia akan sepakat dalam banyak hal, jika beda agama cenderung bermusuhan.

Padahal hidup tidak monochrom begitu. Orang bisa berbeda agama, tapi sama pilihan politik. Orang bisa seagama tapi punya pandangan politik berseberangan.

Makanya saya muak jika ada yang bilang, kandidat ini mengusung aspirasi umat, kandidat yang lain tidak. Wong umatnya juga tidak satu aspirasi. Itu sih, namanya mau mengasong kepala umat.

Sekarang politik juga diposisikan mirip agama. Jika tidak sepakat dalam pilihan politik, orang cenderung bermusuhan. Kita sekarang jadi susah berteman dengan orang-orang yang berbeda pandangan politik.

Jika ada beda pandangan sedikit, tuduhan Cebong yang nyusup atau Kampret yang nyaru, langsung disematkan. Kita mencurigai siapa saja tidak tidak sepaham. Bahkan jika hanya tidak sepaham soal teknis, bukan soal prinsip. Artinya kita tidak siap berbeda, kita cuma nyaman dengan hal-hal yang sama.

Padahal kita bisa berbeda dengan orang pada satu hal, dan pada hal lain kita bisa saja punya penilaian yang sama. Tidak ada perbedaan abadi, sebagaimana tidak ada juga persamaan yang persis dan kongruen. Bahkan pada mereka yang lahir sebagai kembar identik.

Rocky Gerung dikenal sebagai liberalis, tapi pikirannya banyak diamini kelompok 212. Ahmad Dhani pernah jadi musisi yang menjunjung pluralisme, tapi sekarang bisa lebih rasis dari Rizieq Shihab.

Manusia tidak bergerak linear. Mereka bisa berubah. Dalam politik, peluang manusia untuk berubah inilah yang perlu dibidik. Jika kampanye dukungan hanya mengeraskan perbedaan, usaha seperti itu mirip berburu di kebun binatang. Gak ada manfaatnya sama sekali.

Tidak ada Cebong yang abadi. Tidak ada Kampret yang mengeras menjadi batu. Semuanya bisa bermetamorphosa menyempurnakan dirinya.

Semestinya kita setia pada nilai. Pada gagasan dasar. Pada rasionalitas kita masing-masing.

Dulu Bambang Kusnadi mengidolakan Amien Rais, tapi sekarang gak lagi. Alasannya karena Amien sudah tua. Bambang lebih suka tokoh muda seperti Tsamara Amany atau Raisa. Dia juga suka Chelsea Iskan dan Raline Syah.

Abu Kumkum dulu pendukung SBY. Sekarang berubah, dia ternyata lebih suka dengan Roy Suryo.

Persamaannya dengan Bambang, Abu Kimkum juga suka Raline Syah.
Load disqus comments

0 komentar