Minggu, 29 April 2018

JANGAN TAKUT DAVIN. JANGAN PERNAH TAKUT!

#Kamitidaktakut

"Kita gak takut, Davin. Kita gak akan pernah takut," ujar Susi Herawati kepada puteranya yang menangis. Davin tentu ketakutan. Lelaki kecil yang menemani ibunya menikmati minggu pagi di sepanjang jalan Sudirman, dikerubungi wajah-wajah tidak bersahabat.

Mereka para yang ngakunya lelaki, nyatanya pagi itu harus mencopot kemaluannya sendiri. Mereka bergerombol mengolok-olok seorang perempuan dan anak kecil. Diintimidasi dengan umpatan. Dikibas-kibaskan lembaran uang.

Siapapun Anda. Pendukung Jokowi atau pendukung Prabowo, jika tidak jijik menonton video gerombolan perilaku pengecut dan barbar seperti itu, saya meragukan bahwa Anda masih layak disebut komunitas mahluk beradab.

Apapun pilihan partai Anda, jika Anda merasa senang hati menyaksikan seorang ibu dan anak kecil diperlakukan secara norak di tengah kerumunan orang dengan tatapan tidak bersahabat, saya meragukan Anda punya nurani.

Apapun agama Anda, jika perbuatan mengintimidasi seperti itu dianggap tindakan biasa saja, sepertinya ada yang salah dengan cara Anda beragama.

Ini negara demokrasi. Berbeda pilihan politik adalah biasa. Susi adalah seorang ibu yang sadar politik. Dia ingin mengekspresikan kesadarannya. Tapi dia tahu batas. Anaknya yang masih dibawah umur, tidak dipakaikan kaos bernuansa politik. Bagi Susi anak-anak adalah anak-anak. Mereka belum layak dipakaikan simbol-simbol politik. Mereka belum cukup umur.

Berbeda dengan orang-orangan sawah. Mereka tidak bisa membedakan usia. Jadi dari bapak, ibu, bahkan anak yang masih Balita dipakaikan baju berslogan politik. Entah apa yang mau disampaikan ke publik dengan memakaikan anaknya kaos dengan slogan-slogan politik.

Mungkin saja anak-anak itu masih belum bisa membedakan yang mana Mardani Ali Sera, yang mana Mickey Mouse. Yang mana kaos partai, yang mana kaos klub sepak bola. Bagi mereka sama saja.

Tapi, sebagai seorang ibu, Susi telah mengajarkan sesuatu pada puterarnya pagi itu. Di tengah kepungan para lelaki berperilaku norak dan intimidatif, dia meyakinkan anaknya untuk tidak takut. Tidak menyerah hanya karena dikerubungi orang-orang pengecut, yang hanya berani ketika bergerombol.

Suaranya bergetar. Suaranya menandakan keyakinan. "Kita gak takut Davin. Kita gak akan pernah takut."

Pagi itu, Davin belajar banyak dari ibunya. Keyakinan dari sesuatu yang diyakini benar, memang selalu harus diperjuangkan. Memang selalu layak untuk diusahakan. Meskipun mereka berada di tengah gerombolan kampret!

Kita juga dapat belajar banyak dari keberanian Susi. Seorang peremouan yang lantang bersuara. "Kita tidak takut, kawan. Kita tidak akan pernah takut!"
Load disqus comments

0 komentar