Rabu, 25 April 2018

Lobby Diam-diam, Jadi Malu

Jokowi
Jokowi dan 212

Mereka membawa bendera Persaudaraan Alumni 212. Datang ke istana Bogor, entah apa yang dibicarakannya. Pasti ada sesuatu yang penting. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka repot-repot berharap bisa bertemu Presiden.

Sebagai kepala negara, yang menaungi semua rakyat, Presiden kayaknya santai saja ditemui oleh kelompok apapun.

Jangankan alumni 212. Alumni 234, alumni 2030, atau alumni 505, jika mau bertemu Jokowi sepanjang Presiden ada waktu, mungkin akan ditemui. Namanya juga orang mau silaturahmi, masa ditolak.

Tapi ketika fotonya bersama Presiden beredar, mereka meradang. Mereka marah. Kenapa marah? Karena gak mau orang tahu bahwa mereka diam-diam minta bertemu Presiden. Kenapa mereka gak mau orang tahu? Sebab gak mau disebut munafik. Di belakang mencaci maki. Eh, diam-diam malah ngajak ketemuan.

Itu kayak cowok yang hobi menjelek-jelekan gebetannya. Dia naksir abis, tapi gayanya sok cool. Sok jaim. Sok alim.

Pertemuan yang sehat, memang dilaksanakan terang-terangan. Bukan gelap-gelapan. Mau bertemu Presiden, tapi berharap orang lain gak tahu, itu namanya ngajak main petak umpet. Bukan mau silaturahmi.

Kira-kira, apa sih, yang dibicarakan alumni 212 ketika bertemu Presiden kemarin?

Dari keterangan pers Persaudaraan Alimni 212 sih, katanya membicarakan soal kriminalisasi ulama. Orang bisa saja berhenti sampai disitu dalam menilainya. Tapi saya membacanya lain.

Saya mengira, tujuan omongan tentang isu kriminalisasi ulama arahnya ingin minta keringanan soal kasus Rizieq. Bisa saja mereka meminta Presiden untuk mengintervensi kasus hukum Rizieq. Maksudnya, jeratan hukum yang melikit Rizeq akibat ulahnya sendiri minta dibekukan, agar ketika pulang ke Indonesia, kasus mesumnya gak diewer-ewer ke publik via persidangan.

Sebagai imbalan, mungkin, menawarkan dukungan kepada Jokowi. Atau paling tidak janji gak akan menganggu lagi deh.

Ya, namanya juga politik. Ini bicara soal seni tawar menawar. Itu biasa.

Tapi jika saja mereka berniat baik, tentu tidak perlu kuatir semua orang mengetahui adanya pertemuan itu. Mereka gak keberatan fotonya beredar di publik. Katanya mewakili umat 212, masa umatnya gak boleh tahu apa yang dilakukan pimpinannya?

Kecuali kalau memang berniat buruk, makanya ada yang malu jika pertemuan itu ketahuan orang. Keburukan memang lebih suka main gelap-gelapan, ketimbang suasana yang terang benderang.

Tapi apa Presiden bisa mengintervensi hukum seperti itu? Itu jelas langkah berbahaya buat Presiden. Lagian, masa sih, seorang Presiden harus direpotkan ngurusin kasus mesum? Mereka sadar gak, sih. Jokowi itu Presiden Indonesia. Bukan Presiden partai. Masa diminta ngurus yang begituan?

Beredarnya foto dan info pertemuan itu, saya memandangnya positif. Setidaknya menggambarkan jangan lagi percaya pada orang yang mengaku ulama tapi omongannya sering menjelekkan Presiden. Toh, ujung-ujungnya minta ketemu juga. Diam-diam, lagi.

Sebagai rakyat saya membacanya positif-positif saja. Mungkin saja ada yang sudah capek memusuhi Presiden, tapi kok, elektabilitasnya malah naik. Jadi ketimbang mubazir menebar isu buruk dan perlawanan terhadap pwmerintahan Jokowi, lebih baik merapat saja. Barangkali ada yang bisa dimanfaatkan.

Lalu bagaimana dengan alumni 212 lain yang marah dengan ulah seperti itu?

Biar saja. Itu urusan internal kelompok mereka. Bukan urusan kita. Soal cakar-cakaran atau berkelahi merebut pengaruh, saya rasa mereka sudah sangat mahir. Gak perlu dikomentari dan dipusingin.

"Biar mereka saja yang saling berkelahi, mas. Kita gak akan kuat," celetuk Bambang Kusnadi.

Lalu Abu Kumkum, menyela. "Mas, kabarnya kak Emma sekarang gimana, ya?"

Mbuh!
Load disqus comments

0 komentar