Sabtu, 14 April 2018

PENGANTEN MENCARI PASANGAN

Pilpres 2019
2019
Siapakah yang akan mendampingi Prabowo sebagai Cawapres? Setidaknya ada dua hal yang menjadi syarat : dia harus menambahkan lumbung suara dan juga menambal kekurangan logistik.

Dua hal ini yang kayaknya harus dipenuhi oleh tokoh yang akan dipilih sebagai Cawapres. Soal logistik sepertinya Gatot Nurmantyo yang paling penuh pundi-pundinya. Kita tidak tahu dari mana penuhnya, pokoknya kata Kizlan Zein, celengannya cukup untuk membiayai kampanye. Tapi apa mau Gatot jadi wapres?

Sementara dari sisi elektabilitas, GN tidak sampai 3%. GN sendiri tidak punya partai yang bisa digerakkan untuk mensupport tujuannya. Tapi, ketika Pilpres berbarengan dengan Pileg, tampaknya partai-partai akan lebih sibuk mengurus dirinya untuk mendapatkan kursi legislatif ketimbang serius mengurus Pilpres.

Pada Pilpres yang akan datang fungsi relawan sebagai organ di luar partai menjadi lebih signifikan. Inilah yang mungkin bisa diinisiasi dengan logistik yang dimiliki GN.

Ada satu ganjalan juga. Prabowo meski pernah di depak dari TNI tapi rakyat tetap mengasosiasikan dirinya sebagai militer. Jika dua sosok Capres dan Cawapres dari latar belakang yang sama, rasanya akan jadi mubazir.

Siapa lagi calon lainnya? Ada yang menyebutkan Anies Baswedan. Kemarin saat Rakornas Gerindra, Anies hadir bersama Prabowo dengan mengenakan pakaian dinas Gunernur DKI. Dia juga ikut mengiringi devile berkuda.

Tapi dari sisi logistik Anies belum bisa diharapkan. Kecuali Sandiaga mau habis-habisa mensupportnya. Bisa saja supporting itu sebagai tukar guling posisi Gubernur Jakarta. Kalau Anies maju jadi Cawapres, dia mundur dari kursi Gubernur. Otomatis Sandiaga yang akan naik.

Ini bisa meredakan kengototan PKS untuk memasangkan kadernya dengan Prabowo. Untuk jatah PKS akan dikompensasi dengan posisi Wagub Jakarta. Pas kan?

Tapi secara umum, segmen yang selama ini mendukung Anies tidak jauh berbeda dengan yang sudah digarap Prabowo, yaitu kaum muslim modern. Kehadiran Anies sebagai Cawapres tidak akan banyak menambal kekuarangan suara, sebab segmennya sama.

Demikian juga jika Cawapres yang dipilih dari PKS atau PAN. Pemilih PKS atau PAN selama ini otomatis cenderung ke Prabowo. Jadi gak banyak juga menambal kekuatan suara. Sama saja dengan berburu di kebun binatang.

Hanya dengan menggandeng PKS, Gerindra bisa memajukan Prabowo sebagai Capres. Apalagi ditambah PAN.

Sebetulnya ada satu lagi yang bisa diperhitungkan : Cak Imin dari PKB. Sampai saat ini, meski terasa lebih berdekatan dengan Jokowi, PKB belum menentukan dukungannya secara resmi. Komunikasi yang ditampilkan ke publik hanya menawarkan Cak Imin sebagai cawapres. Belum tahu siapa pasangannya.

Jika Prabowo mau menggandeng Cak Imin, diperkirakan akan ada tambahan suara dari pemilih muslim tradisional yang selama ini dikuasai Jokowi. Ada keuntungan dari sisi elektoral. Meskipun tampaknya Cak Imin belum bisa diandalkan untuk menambal kekurangan logistik seperti yang disyaratkan Hasyim Djojohadikusomo.

Problem Cak Imin juga karena PKB dianggap sebagai pendatang baru dalam koalisi Prabowo. Ini bisa menimbulkan gesekan dengan PKS atau PAN yang sudah bersekutu lebih lama. Meskipun resminya koalisi pemerintah, tapi kelakuannya lebih mirip oposisi.

Harus dicatat juga, pada Pemiku kali ini partai-partai berkepentingan untuk menempatkan kadernya di posisi Capres atau Cawapres, karena Pilpres dilaksanakan berbarengan dengan Pileg. Kehadiran kader partai sebagai kontestan Pilpres bisa membantu mengeruk suara pemilih Pileg.

Ini juga yang diincar PKS, PAN atau PKB sehingga mereka ngotot memajukan kadernya untuk Cawapres. Jadi tarik menarik antar partai untuk menempatkan kadernya di sebagai Cawapres akan sangat ketat.

Yang kelaminnya belum terlalu jelas adalah Partai Demokrat. Jika Capres hanya mengkrucut ke dua tokoh : Jokowi dan Prabowo, saya rasa PD akan lebih memilih berada di gerbong Jokowi. Sinyal itu yang belakangan tampil menandakan kedekatan PD dengan Jokowi.

Jika sampai sekarang PD belum mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi, itu karena masih terbuka poros ketiga antara PD, PAN dan PKB. Jika itu yang terjadi, suasananya akan mirip Pilkada Jakarta.

Jika poros ketiga tidak jadi terbentuk, Pilpres ini kali ini jadi laga tanding ulang yang semakin panas. Amien Rais saja, pagi-pagi buta, sudah membetot-betot nama Tuhan untuk diajak kampanye.

"Pertarungannya persis seperti pemakan bubur diaduk dengan yang tidak diaduk. Sama-sama ideologis," ujar Bambang Kusnadi.
Load disqus comments

0 komentar