Rabu, 25 April 2018

POLITIK FIKSI

Isu TKA
Isu Tenaga Kerja Asing

Apakah para politisi tahu bahwa gak mungkin jutaan TKA ilegal masuk begitu saja tampa terdeteksi sistem keimigrasian kita?

Ya, mereka pasti tahu.

Mereka tahu bahwa jumlah TKA sekarang paling hanya 120 ribu orang. Mereka juga tahu jika TKA masuk secara ilegal akan ada konsekuensi hukum bagi TKA maupun perusahaan yang mempekerjakan.

UU sudah jelas. Aturan sudah ada. Dan mereka itu politisi, punya akses informasi yang banyak. Jika benar terbukti seperti yang mereka serukan, tinggal lapor polisi. Polisi menangani. Hukum bekerja.

Tapi mengapa mereka tidak melapor ke polisi? Karena tidak ada bukti seperti yang mereka isukan. Jika ada satu-dua kasus ini adalah pelanggaran biasa. Bahkan Depnaker dan Imigrasi sering menindak kasus-kasus ini. Orangnya dipulangkan dan perusahannya diberi sanksi. Itu tandanya justru aparat negara sedang bekerja.

Tapi kebenaran tidak penting bagi mereka. Sebab yang dibutuhkan hanya sebuah isu untuk menipu publik.

Mereka tahu sebagian masyarakat masih mengidap sentimen rasial. Berdasarkan penyakit ini juga mereka mengobarkan sentimen rasial dengan isu TKA China menguasai lapangan kerja di Indonesia. Lalu muncul kebencian sebagian masyarakat dengan saudaranya beretnis Tionghoa disini. Padahal sama-sama warga negara Indonesia.

Apakah orang-orang yang menyebarkan isu gak tahu jika bayaran buruh di China jauh lebih tinggi dibanding gaji buruh disini? Jadi mana mungkin buruh China mau muhibah ke negeri orang dengan bayaran lebih kecil dibanding bekerja di negaranya sendiri.

Ya, mereka tahu.

Tapi sekali lagi pengetahuan dan kebenaran gak penting. Yang penting bagaimana sebuah isu diplintir agar publik tertipu.

Apakah mereka tidak tahu Perpres 20/2018 tentang TKA justru mengatur lebih ketat tentang masuknya TKA? Apakah mereka tidak tahu bahwa di Perpres itu justru ada larangan TKA menduduki jabatan personalia di Perusahaan. Artinya justru melindungi tenaga kerja lokal?

Ya, mereka tahu.

Tapi jika mereka bicara yang sebenarnya, masyarakat akan mendapat hal positif tentang Jokowi. Mereka tidak mau itu terjadi.

Apakah mereka tidak tahu, bahwa sejak jaman Walikota Solo Jokowi sangat rajin mengunjungi ulama. Menghadiri acara keagamaan. Dan menjalin komunikasi dengan berbagai kelompok agama? Saat Pilwakot Solo, Jokowi didukung PKS. Tidak ada tuh, isu Jokowi anti Islam. Kenapa baru sekarang isu itu muncul.

Ya, mereka sudah tahu Jokowi itu Walikota muslim yang dekat dengan santri dan ulama. Ketika jadi Presiden, barangkali selain Gus Dur yang memang Nahdiyin, Jokowi adalah Presiden yang paling sering ke pesantren. Mereka tahu Jokowi sangat mencintai agamanya.

Tapi jika kebenaran itu disampaikan, lalu bagaimana mereka mau membakar sentimen anti Jokowi? Padahal mereka juga mau duduk di kursi kekuasaan.

Lalu apa yang mereka ketahui dengan jelas?

Mereka amat tahu, sebagian masyarakat kita malas membaca. Malas mengkonfirmasi sebuah berita. Kita adalah masyarakat yang dibesarkan oleh gosip. Jadi, gosip heboh lebih disukai dibanding info nyata dan biasa saja. Pemerintah yang bekerja, bukankah hal yang biasa saja?

Kita ini masyarakat yang suka drama. Suka hal-hal bombastis. Jika Presiden mencintai agamanya dan menjalankan kewajiban beragama dengan baik, apa hebohnya? Berbeda jika Presiden diisukan anti Islam, dibumbui oleh plintiran-plintiran isu lain, nah itu baru seru. Baru politik akan heboh.

Jika TKA diatur lebih baik, hanya proses pengurusanya saja yang dipangkas hingga birokrasi bekerja lebih efisien, lalu apa serunya? Akan sangat seru jika diplintir bahwa Prepres itu bermaksud mengajak TKA berbondong-bondong masuk ke Indonesia. Lalu mahasiswa dan organisasi buruh ikut termakan isu itu.

Mereka melakukan demonstrasi hanya berdasarkan hoax. Hanya berdasarkan isu plintiran. Tapi toh, mereka menikmatinya.

Begini. Para politisi pembuat isu itu tahu, sebagain pendukungnya percaya pada fiksi. Keimanan pada fiksi ini mungkin selevel dengan keimanan pada kitab suci.

Dengan berbekal fiksi itu jugalah mereka ingin menguasai Indonesia. Berbekal pada fiksi jugalah mereka mengira Indonesia akan bubar.
Load disqus comments

0 komentar