Kamis, 21 Juni 2018

Djarot Tegak Lurus Di Garis Politik Jokowi

Sumut
Djarot-Sihar

Sumatera Utara menjadi bagian penting dalam gerak perekonomian di masa Jokowi, disana sedang dibangun Pelabuhan Kuala Tanjung, sebuah pelabuhan terbesar di Asia Tenggara, dan berpotensi menjadi saingan Selat Malaka dan Pelabuhan besar di Singapura.

Dibelakang Pelabuhan Kuala Tanjung, ada ribuan hektar lahan yang disiapkan jadi Portcity, sebuah kota pelabuhan yang bisa memenuhi segala kebutuhan pelabuhan dan diperkirakan menjadi pusat jasa perdagangan terbesar di wilayah barat Indonesia. Tentunya Jokowi akan menyelesaikan ini, seperti ia menyelesaikan ribuan proyek proyek besar tanpa mangkrak seperti di Hambalang.

Sumatera Utara terbentuk dari tiga soal, Perkebunan-Perdagangan dan Jasa sejak masa ratusan tahun silam. Presiden Jokowi memiliki visi yang besar terhadap Sumatera Utara, pertama-tama Jokowi menghendaki Medan menjadi kota yang bersih, lihat saja aspal-aspal di jalan Kota Medan yang banyak hancur dan tipis-tipis, tidak seperti aspal di Jawa Tengah, Jatim dan Bali yang sangat bagus kondisinya. Kota Medan terlihat sangat kotor, Jokowi meminta bahkan sangat tegas, "bila tidak ada yang bersihkan Kota Medan, saya sendiri yang turun tangan". Tidak hanya Medan saja, seluruh Sumatera Utara harus berubah, sekali lagi berubah...!!!...gaya hidup pejabat dan isteri pejabatnya janganlah terlalu bermewah mewah, sederhanalah dan pejabat bekerja keras untuk rakyat seperti yang ditunjukkan Jokowi kepada seluruh rakyat.

Jokowi membenahi seluruh infrastruktur agar semua jaringan jalan terkoneksi, biaya logistik menjadi amat murah sehingga barang barang kita bersaing.

Kita saksikan bagaimana Jakarta dibawah Anies dan Sandiaga yang bukan bagian dari garis politik Jokowi mengalami stagnasi pembangunan, tidak seperti di masa Ahok yang begitu hebat laju pembangunannya.

Jokowi dan Ahok dulu membangun Jakarta dengan cepat, kini kita bisa menyaksikan pembangunan dimana mana di Jakarta yang dimulai dari era Jokowi-Ahok dan Djarot saat mereka memimpin Jakarta, tapi kita tahu bagaimana "politik ayat dan mayat" menjadikan Pilkada DKI 2017 tidak lagi didasarkan keterpilihan orang yang mampu mengatur wilayah tapi lebih pada perang urat syaraf dan menjadikan Pilkada DKI bukan sebagai bentuk pendidikan politik yang didasarkan memilih pemimpin karena kemampuannya, tapi lebih pada kelihaian dalam mlintir situasi politik.

Kini Djarot datang ke Sumatera Utara, membawa cara-cara politik Jokowi dan Ahok, membenahi birokrasi menjadi sebuah mesin profesional yang melayani rakyat, mempermudah urusan urusan rakyat, menjadikan Sumatera Utara sebagai salah satu Provinsi termaju karena kerja keras, dan kemampuannya membangun lokasi lokasi strategis dengan cara yang tepat, hidup dalam keberagaman dan saling bersikap jenaka dalam kehidupan...

Djarot membawa pesan-pesan itu, dan ia memang tegak lurus pada Garis Politik Jokowi.
Load disqus comments

0 komentar