Minggu, 03 Juni 2018

PRABOWO, AMIEN DAN ELIT PKS UMROH POLITIS

Politik
Amien Rais dan Prabowo Umrah

Setelah pertemuan Alumni 212 yang merekomendasikan beberapa nama menjadi calon Presiden, tampaknya ada yang kurang sreg dengan hasil itu. Bukan apa-apa. Nama Rizieq ditaruh di urutan pertama, sedangkan Prabowo diurutan kedua.

Bagi Prabowo, ini kan, nyebelin. Emang Rizieq siapa?

Selain sebagai Capres, surat rekomendasi itu juga menempatkan Prabowo sebagai Cawapres. Posisinya disetarakan dengan Bahtiar Nasir, Eggi Sudjana atau Anies Baswedan. Mereka ada dalam daftar itu, berdesakan dengan Prabowo bersama beberapa orang lainnya.

Lho, Prabowo itu bekas jenderal Kopassus, mantan menantu jenderal besar, ketua partai, pernah jadi Cawapres, pernah jadi Capres, jago naik kuda, masa sejajarkan dengan Bahtiar Nasir yang ketua yayasan dakwah atau Eggi Sudjana yang ketika jadi caleg saja gak pernah lolos?

Saya jadi membaca rekomendasi itu bukan merupakan dukungan kepada Prabowo, tetapi justru sebagai tabokan. Plak!

Kenapa Rizieq dan Alumni 212 perlu menabok Prabowo?

Mungkin ini ada hubungannya dengan sikap Prabowo yang nyuekin Rizieq ketika jaman mendaftaran calon pimpinan daerah pada Pilkada serentak 2018 ini. Waktu itu Rizieq merekomendasikan 5 orang sebagai calon kepala daerah. Tapi tak satupun yang digubris Prabowo. Itu seperti ngeplak kepala seorang yang diangkat sebagai imam besar.

"Emang yang besar apanya? Wong rekomendasinya aja dicuekin."

Kita bisa tahu cerita ini karena ada salah satu calon yang direkomendasikan Rizieq mengumbar ngambeknya. La Nyalla gagal jadi Cagub Jatim, karena belum mau keluarkan duit Rp 40 miliar yang disaratkan untuk mendapatkan tiket dari Gerindra. Dari sana akhirnya kita tahu, yang dicuekin Prabowo bukan hanya La Nyalla, tapi ada 5 orang lainnya.

Jadi kalau alumni 212 sekarang mengeluarkan rekomendasi yang menampar Prabowo hingga tanda bekas tangannya memerah di pipi, kita tentu bisa memaklumi. Hitung saja sebagai balas dendam.

Tapi Prabowo gak bisa apa-apa. Dalam posisi sekarang, dia lebih butuh Rizieq. Tiket dari Gerindra tidak cukup untuk maju sebagai Capres. Sementara PAN dan PKS kayaknya malah jual mahal. Nah, mungkin dia berharap Rizieq membantu meyakinkan mitra koalisi untuk memberikan dukungannya.

Disitulah peran Amien Rais, orang yang paling hobi bikin poros-porosan, bermain. Dulu diawal reformasi Amien mengkomandoi poros tengah yang menjegal Megawati. Untung saja Gus Dur yang malah mencuat. Ketika Gus Dur duduk sebagai Presiden, Amien lagi yang memotori untuk melengserkannya.

Dalam beberapa kesempatan, logika poros-porosan ini juga sering digunakan, tapi gak jalan.

Nah, perjalanan umroh Prabowo, Amien Rais dan elit PKS sekalian sowan bertemu Rizieq, setidaknya kita phami latar belakangnya.

Yang kedua, dengan sowannya Prabowo ke Rizieq menjelang pendaftaran Pilres, kita bisa memperkirakan kayaknya warna politik yang membawa-bawa agama bakal ramai lagi dimainkan di Indonesia pada 2019 nanti.

Pasca Pilkada Jakarta lalu, potensi suara sebagian umat Islam 'garis keras' berusaha diikat dengan brand 212. Ada orang yang memanfaatkannya secara ekonomis dengan membentuk minimarket 212, membentuk koperasi yang mengumpukan duit jemaah, atau usaha-usaha lain dengan label 212. Sebagian lagi memanfaatkan sebagai bargaining politik dengan cara menawarkan masa atau rekomendasi untuk Caleg.

Masalahnya para pemetik manfaat itu, saling gak akur. Kelompok yang memakai nama 212 saja entah ada berapa jenis. Mungkin sudah terpecah menjadi 73 golongan.

Nah, Rizieq dianggap sebagai magnet yang bisa mempersatukan mereka. Padahal belum tentu juga.

Saya kira dalam rangka itulah kita bisa menilai umrohnya Prabowo, bareng Amien Rais dan elit PKS, lalu mereka akan bertemu Rizieq. Mungkin akan banyak soal politik yang dibicarakan.

"Jangan suuzdon begitu, mas. Mereka cuma umroh, kok," Abu Kumkum memprotes saya. "Pikiran mas, terlalu politis."

"Terus kalau mereka bertemu, kira-kira apa yang akan dibicarakan?," tanya saya penasaran.

"Mungkin diantara yang umroh itu ada yang mau konfirmasi langsung ke yang bersangkutan. Tabayun, mas. Tabayun.

"Tabayun apaan? Apa yang mau ditanyain, kang?". "Bro, ente betul waktu itu di kandang kambing?,'" ujar Abu Kumkum.
Load disqus comments

0 komentar