Rabu, 20 Juni 2018

SP3 KAK EMMA

Politik
Ogah Ganti Presiden

Teman saya Birgaldo Sinaga sepertinya sedang gundah. Kemarin dia menelepon saya, mengadukan akun FB-nya yang bermasalah. Followernya sudah lumayan, sampai ratusan ribu. Dia resah jika tidak dapat lagi mengakses akunnya.

Keresahan kedua, karena kasus SP3 Rizieq. Baginya keluarnya SP3 Rizieq merupakan jalur kelam hukum. Dia memprotes. Dia berteriak. Dia mengkritik dengan keras via akun Twitter.

Tapi ada satu hal yang dia tegaskan, dia tetap memposisikan dirinya sebagai pendukung Jokowi. "Soal militansi dukungan kepada Jokowi, saya sudah membuktikan dan akan terus membuktikan," katanya.

Tapi, dia bilang, kalau ada yang tidak kita sepakati, kita tetap harus melatih diri untuk menyampaikan protes.

Saya setuju. Pemerintah, pada dasarnya tidak 100% sama dengan Jokowi. Iya, Jokowi adalah Presiden. Tapi tidak semua kebijakan bermuara pada seorang Presiden. Kebijakan eksekutif saja kadangkala bisa tidak satu komando, apalagi yudikatif dan legislatif.

Ada ribuan orang yang ikut menentukan arah dalam proses pengambilan kebijakan. Bisa sejalan dengan kebijakan Presiden, bisa juga malah berlawanan. Jadi kalau kita mengkritik sebuah kondisi yang tidak kita sepakati, itu bukan berarti arah kritikannya ke Jokowi.

Jokowi mau semua perizinan usaha mudah. Coba lihat di lapangan. Apakah semudah yang diingankan Jokowi? Belum tuh. Apalagi jika menyangkut aturan Pemda.

Jokowi meminta birokrasi bergerak melayani rakyat. Apakah mental birokrat kita sudah sampai ke titik itu? Rasanya masih jauh.

Jokowi minta semua kasus hukum ditegakkan dengan baik. Coba tengok berbagai persoalan yang membelit dunia hukum kita.

Dengan kata lain, mentalitas birokrasi pengelola negara, mungkin juga aparat hukum, perlu terus dibenahi. Bagi rakyat, salah satu cara ikut membenahinya dengan melakukan kritik. Kritik rakyat adalah bahan bakar untuk terciptanya pemerintahan yang jauh lebih baik.

Tapi, harus diakui, untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik, dengan penegakkan hukum yang adil dan rasional, kita perlu pemimpin yang bersih, melayani, tidak punya beban hukum masa lalu, dan punya jiwa nasionalisme. Itu semua ada dalam diri Jokowi.

Itulah yang saya rasa, membuat Birgaldo tidak mengubah haluannya. Kalaupun dia ekspresikan rasa kecewanya pada SP3 Rizieq, dia tetap yakin berdiri di belakang Jokowi saat ini adalah pilihan paling rasional untuk masa depan Indonesia.

Pandangan Birgaldo bisa saja sedikit berlawanan dengan pandangan Denny Siregar. DS lebih melihat peta pertarungan politik globalnya. Di tengah pertarungan politik yang penuh intrik dan mulut nyinyir ini, dia tidak mau membuka celah sedikitpun ruang tembak yang mengarah kepada Jokowi.

Wong, ketika pemerintahan kerja benar saja terus dimaki-maki, apalagi jika ruang tembak itu dibuka oleh pendukungnya sendiri. Tampaknya DS lebih mengkhawatirkan para bigot penjaja agama kembali memainkan kesempatan ini untuk mencari celah isu.

"Mereka selalu mencari celah untuk memecah para pendukung Jokowi. Karena tidak punya prestasi, yang dijual mereka hanyalah konflik. Dengan cara itu mereka hendak menguasai Indonesia," kira-kira begitu kekhawatiran DS.

Lain lagi style Permadi Heddy Setya, sang Abujanda. Dia mencoba memahami konteks SP3 Rizieq ini dalam kerangka pemakluman. Tulisan dan celotehnya bersikap, jika karena SP3 ini kita kehilangan kepercayaan pada Jokowi, dampaknya bisa fatal.

"Lu mau Indonesia dikuasai oleh mereka yang permisif terhadap ide khilafah?"

Mbok Niluh Pertami Djelantik, seperti biasa, lebih kalem. Dia hanya memantapkan dirinya untuk setia di barisan Jokowi. "Apapun masalah yang dihadapi, kita belum punya pilihan lain yang bisa membawa Indonesia lebih baik di masa depan. Mendukung Jokowi adalah ekspresi cintaku pada Indonesia," ujarnya.

Inilah teman-teman saya. Kami dipersatukan oleh ide. Kami diikat oleh nilai yang kami yakini. Oleh sebuah harapan tentang Indonesia masa depan. Bukan diikat oleh kepentingan politis praktis.

Karena itulah teman-teman saya bisa berbeda pendapat dalam sebuah soal. Pada soal yang lain, bisa satu suara. Ada satu kesamaan : bahwa secara rasional dan nalar Indonesia saat ini membutuhkan Presiden seperti Jokowi.

Bahwa kita tidak ikhkas negeri ini jatuh ke tangan para pencoleng, para penjaja agama yang menjadikan rumah ibadah sebagai sarana agitasi. Kita tidak ikhlas negeri ini digarong lagi, sumberdayanya dikeruk dan rakyat dininabobokan dengan slogan basi.

Kami terbiasa berdebat keras. Saling mempertahakan argumen. Saling meledek. Setelah itu kembali berpelukan seperti Teletubies.

Jika kami ngobrol langsung, tidak pernah ada kesepakatan diambil dengan mudah. Bahkan untuk sekadar menentukan kita mau makan dimana. Biasanya Birgaldo yang keras dan Abujanda yang ngeyel selalu terlibat perdebatan gahar. Seru, lucu, dan agak menghangat.

Saya, DS dan mbok Niluh menikmati karakter teaterikal keduanya.

"Lho, kalau pandangan mas sendiri soal SP3 Rizieq, gimana?," seorang teman bertanya.

"Anda nanya pendapat saya?"

"Iya..."

"Pendapat saya tentang kasus ini, sama seperti pendapat Kak Emma..."

"Maksudnya?"

"Keluarnya SP3 itu, tidak membuktikan hal itu tidak terjadi. Iya, kan kak Emma?"


Load disqus comments

0 komentar