Kamis, 30 Agustus 2018

JOKOWI BEKERJA DI BELAKANG ATLIT

Asian Games
Prestasi Indonesia

Atlit Indonesia sebetulnya hebat-hebat. Tapi yang menanganinya yang sering ngaco. Di ajang Sepak Bola, PSSI sering konflik gak kelar-kelar. Mara mafia terlibat pengaturan skor. Mental pemain dibuat hancur lebur. Bahkan kepengurusannya sampai dibekukan pemerintah. Pemainnya damai, pengurusnya berantem terus.

Begitupun di cabang olahraga lain. Biasanya pengurus dan birokrasi yang menangani gak terlalu peduli dengan prestasi. Mereka bukan membantu atlit untuk berkembang, tapi justru memeras dan memanfaatkan atlit untuk keuntungannya.

Kadangkala dalam proses rekruitmen untuk mengikuti pertandingan internasional, yang dijadikan patokan bukan prestasi, tapi kedekatan. Atau atlit yang bisa 'diatur'. Bukan apa-apa. Setiap even pasti ada duitnya. Nah, kalau atlitnya cerewet gak bisa diatur, birokrat dan pengurus susah mendapat untung.

Lalu soal bonus. Setiap kali ada atlit berprestasi pemerintah menjanjikan bonus menggiurkan. Tapi begitu even sudah lewat, yang menangani janji itu adalah para birokrat. Seperti biasa adagium kaum birokrat, kalau bisa dipersulit kenapa dipercepat. Sudah bonus atlit turunnya lama, potongannya banyak. Belum lagi pengurus cabang olahraganya yang ikut-ikutan ngentit.

Makanya dulu orang mikir seratus kali jika mau jadi atlit. Masa depannya suram. Kita ingat Elyas Pical, juara dunia tinju yang pernah dielu-elukan namanya.

Di masa tuanya dia harus mengais rezeki sebagai satpam diskotik. Bayangkan, seorang juara dunia tinju profesional tidak bisa menikmati kesuksesannya di masa tua. Kalau Elyas Pical warga AS, mungkin dia tinggal ongkang-ongkang kaki dimasa tuanya.

Kalau sudah begini, orangtua mana yang merelakan anaknya jadi atlit? Tapi anak-anak Indonesia tidak juga habis niatnya. Setiap saat, tumbuh atlit-atlit baru yang butuh dibina dan diarahkan. Mereka ingin berprestasi. Mereka ingin mengharumkan nama bangsa dengan apa yang mereka bisa.

Kasian para atlit. Kasian juga Indonesia. Setiap kali ikut event olahraga internasional prestasinya selalu jeblok.

Wajar jika mantan Menpora Roy Suryo pesimis ketika Jokowi menargetkan Indonesia meraih emas minimal 16 dan harus masuk sepuluh besar. "Optimis boleh, tapi harus realistis," ujar Roy.

Roy mungkin tidak meragukan kemampuan atlit kita. Yang dia ragukan adalah kemampuan birokrasi dan aparat pemerintah untuk menunjang prestasi atlit. Sebab, Roy berpengalaman. Dia bisa duduk di kursi Menpora. Karena korupnya birokrasi olahraga kita.

Menpora lama ditangkap KPK. Bangunan di Hambalang kini lebih layak jadi sarang Kampret ketimbang wisma atlit. Roy Suryo menggantikannya. Jadi kalau Roy pesimis, sebab dia punya pengalaman bagaimana mereka memperlakukan atlit.

Nah, Asian Games 2018 adalah momentum. Tidak bisa lagi orang yang sudah berjuang untuk mengharumkan nama bangsa diperlakukan seperti sapi perah. Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres No. 5/2017 untuk mensukseskan Asian Games. Sukses sebagai tuan rumah, sukses sebagai penyelenggara, sukses dengan prestasi atlitnya.

Perpres itu diikuti dengan perintah teknis Jokowi kepada jajaran di bawahnya. Mulai dari perbaiki sarana olahraga, seleksi dan pembinaan atlit yang benar, menaikkan gaji atlit dan pelatih, melipatgandakan bonus atlit dan pelatih, dan jaminan hari tua kepada atlit.

Pada ajang Asian Games sekarang setiap atlit yang mendapatkan medali emas diganjar bonus Rp1,5 miliar. Ada juga rumah type 36 yang diberikan gratis. Sedangkan untuk masa depannya para atlit itu diangkat sebagai PNS.

Birokrasi penanganan atlit dibenahi. Jokowi bahkan berkata, bayarkan bonus atlit yang berlaga di Asian Games 2018 sebelum keringatnya kering. Transfer langsung ke rekening atlit.

Hasilnya motivasi berlaga atlit meningkat pesat. Target 16 emas terlampaui. Indonesia menempati posisi ke empat di bawah China, Jepang dan Korea. Sebuah capaian yang luar biasa.

Perolehan Asian Games 2018 ini meningkatkan optimisme kita untuk unjuk gigi di ajang Olimpiade mendatang di Jepang.

Kita tahu bangsa besar juga punya prestasi besar dalam olahraga. Coba saja lihat Olimpiade atau berbagai pertandingan olahraga multi event, peringkat atas selalu diduduki oleh negara-negara besar.

Bukan hanya karena rakyatnya hebat sehingga bisa berprestasi luar biasa. Tetapi juga di belakangnya ada sistem yang bekerja secara baik untuk menunjang prestasi para atlit. Mau orang sebakat apapun, jika sistem yang bekerja dii belakangnya tidak sehat, gak akan punya prestasi bagus.

Atlit seperti bibit. Mereka akan tumbuh maksimal jika disemai di tanah yang subur. Nah, sistem, birokrasi penanganan, pengurus organisasi dan orang-orang yang terlibat di sekeliling atlit, termasuk keseriusan pemerintah bisa jadi tanah subur atau lahan yang gersang bagi para atlit.

Roy Suryo dan pemerintahan yang lalu tidak mampu membuat tanah itu subur. Wajar jika dia pesimis. Memang lahannya gak pernah diolah dengan baik. Di ajang Asian Games 2014 lalu Indonesia hanya menempati posisi 17 dengan perolehan 4 emas.

Berbeda dengan Jokowi dan Menpora Imam Nahrawi S.Ag. Pemerintah berusaha keras menciptakan lahan subur bagi altlit. Gelar akademik Menpora saja sudah menjanjikan kesuksesan. Kata orang S.Ag bukan sarjana agama, tetapi Sarjana Asian Games. Makanya jika sekarang Indonesia meraih 30 emas (syukur-syukur bisa lebih) dan menempati posisi ke 4, itu wajar.

Itu menunjukan atlit kita itu hebat-hebat. Selama ini yang menanganinyalah yang dodol.

Atlit hebat, bertemu dengan Presiden dan Menpora yang hebat. Hasilnya juga luar biasa. Apalagi sebagian rakyatnya juga keren. Hanya Neno, Mardani dan Dhani yang masih ngaco. Bangsanya lagi sibuk jadi tuan rumah Asian Games, mereka malah bikin onar.

Malu-maluin.

"Mas, cabang panahan ini, kalau dapat emas akan selebrasi kayak Jojo, gak sih?," tetiba Abu Kumkum nyelonong sambil memperlihatkan gambar.
Atlit Panahan
"Huss!. Kamu ini penjual minyak telon apa kader PKS, sih? Kok nanyanya begitu. Selalu ke luar konteks."
Load disqus comments

0 komentar