Senin, 13 Agustus 2018

Kisah Perjalanan ke Papua (1): Sebuah Distrik Bernama Puldama

Papua
Puldama Papua

Pesawat certeran jenis Caravan berkapasitas 9 penumpang yang saya tumpangi mendarat agak terguncang. Sejak tadi ketika menembus langit Papua, di dalam pesawat ini saya merasa mirip naik kora-kora. Melayang di antara gunung dan lembah. Dengan hutan lebat di bawahnya.
Sebelum mendarat, saya sudah melihat dari atas sebuah landasan berumput. Posisinya pas di tengah lembah, diapit oleh pegunungan dengan hutan tropis Papua yang masih perawan.

Puldama sendiri terletak di pegunungan tengah Papua. Di sebelah barat Puldama, ada pegunungan Oksibil yang berjajar dengan lekukan-lekukan ekstrim. Jika dilihat dari atas pesawat, jajaran pegunungan hanya menampakkan kesan hijau, senyap, misterius dam gelap. Susah kita membayangkan ada kehidupan di bawah sana.

Kemarin sebuah pesawat dengan jenis yang sama seperti yang saya tumpangi sempat terjerembab di pegunungan Oksibil, dengan hampir seluruh penumpangnya tewas. Informasi tentang itu sendiri kami dapatkan terlambat.
Maklum. Di tengah pegunungan ini, tidak ada akses komunikasi sama sekali. Hanya ada sebuah radio komunikasi milik gereja untuk menyambungkan informasi ke dunia luar. Dari sanalah kami mendapat sedikit informasi tentang kecelakaan Pesawat tersebut pas di hari yang sama kami terbang. Informasi itu sempat juga membuat ciut hati. Tapi mau gimana lagi, hanya pesawat kecil itulah yang menjadi satu-satunya alternatif transportasi.

Puldama termasuk dalam administrasi Kabupaten Yahukimo. Hanya saja untuk mencapai kota Kabupaten di Dekai, satu-satunya transportasi adalah pesawat kecil itu. Tidak ada jalan darat yang bisa dilalui kendaraan.
Sebagian penduduk, jika ada keperluan ke kota, biasa menghabiskan waktu 2 minggu sampai satu bulan berjalan kaki menembus hutan. Atau mereka bisa menunggu pesawat kecil yang membawa para penginjil, yang biasa mengunjungi desanya dua minggu sampai sebulan sekali. Satu orang harus membayar tiket Rp1,3 juta sekali jalan. Tidak termasuk barang bawaan.

Pesawat hanya bisa mendarat disini di bawah jam 12.00. Jika menjelang sore cuaca sering berubah tiba-tiba. Kabut tebal menyergap dan hujan tetiba turun. Kondisi cuaca dan medan pegunungan inilah yang sering menjadi penyebab kecelakaan pesawat.

Landasan pesawat itu sekaligus menjadi pusat distrik Puldama. Ada delapan desa yang berada dalam distrik ini yang setiap desanya berjarak 2 sampai 6 jam berjalan kaki melalui jalan setapak di tengah hutan. Bahkan ada satu desa di distrik Puldama yang hanya bisa diakses via pesawat, karena dipisahkan oleh medan yang sangat berat.
Ketika mendarat saya menyaksikan ratusan warga berkumpul di sekitar landasan. Mereka memperhatikan kedatangan kami dengan tatapan heran. Beberapa penduduk menyambut kami dengan mengalungkan tas noken yang terbuat dari akar kayu. Tampaknya yang menyambut kami adalah kepala distrik dan beberapa stafnya. Sementara masyarakat sekitar hanya menatap saja di sekeliling.

"Mereka sangat jarang bertemu orang asing. Jadi seperti ketakutan," ujar Yacobus, seorang staf distrik kepada saya. Benar saja. Saat saya mencoba mendekati, mereka langsung lari menjauh. Tapi ketika kami bergerak, mereka mengikuti dari belakang.

Kami bergerak menuju gereja kecil yang dijadikan tempat kami berkumpul. Gereja itu adalah satu dari beberapa bangunan yang menggunakan atap seng. Sementara sebagian besar penduduk tinggal di Honai, rumah berbentuk lingkaran beratap jerami.

Waktu menunjukan pukul 10 pagi, WIT saat kami mendarat. Tapi panas matahari terasa menyengat menimpa kulit dengan hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Sebuah paduan cuaca yang luar biasa.

Setela seluruh barang diturunkan, kami istirahat sejenak. Menjelang tengah hari perut kami mulai terasa keroncongan, maklum di Jayapura tadi tidak sempat sarapan karena pagi-pagi buta harus bergerak ke bandara. Rupanya atas perintah kepala distrik sebagian penduduk telah menyiapkan dapur umum. Jadi ada sedikit hidangan makam siang.

Dari baskom-baskom sederhana itu ada potongan keladi dan ubi bakar. Di sebelahnya ada baskom berisi potongan ayam yang diolah dengan berbagai bumbu khas. Dengan itulah kami mengisi perut.

Untuk keladi dan ubi, tidak ada masalah. Tapi begitu mencicipi ayam, saya mencium aroma bumbu yang agak aneh. Seperti bau minyak gosok bercampur bau ruangan yang sudah lama tidak ditempati. Saya gak tahu jenis bumbu apa yang digunakan untuk mengolah masakan. Yang pasti aromanya tidak terlalu cocok dengan hidung saya. Jika dipaksakan perut saya mungkin akan berontak.

Tapi karena perut lapar, akhirnya saya paksakan juga untuk makan. Ayam yang telah dibumbui itu saya cuci dengan air mineral. Lumayan. Setidaknya saya masih bisa menelan dengan sedikit menahan nafas.
Ah, untung saja tim membawa bahan makanan yang cukup. Mie instan, kornet atau ikan sarden tampaknya akan menjadi menu malam nanti. Juga nasi. Untuk pertama ini saya menikmati saja keladi dan ubi bakar dengan ayam yang berbumbu dengan aroma menyengat itu.

Agak sore, saya berjalan ke arah belakang mendekati tenda dapur. Saya melihat beberapa ibu-ibu sedang sibuk. Tampaknya hendak mengolah bahan makanan yang kami serahkan untuk makan malam.

Di dekat dapur saya melihat seorang lelaki membawa dua ekor ayam. Tampaknya ayam-ayam inilah yang akan diolah untuk hidangan kami malam nanti. Di bawah pohon, lelaki itu memegang ayam. Tangan yang satu menggenggam bagian leher sedangkan nadan ayam dikempit dengan kedua kakinya.

Lalu, krek! Lelaki itu memuntir begitu saja kepala ayam sampai putus. Kepala ayam langsung dilempar ke api. Sementara badannya yang masih bergerak dikempit dengan kedua kaki sampai berhenti bergerak. Rupanya begitulah cara mereka menyembelih ayam. Tanpa pisau.

Ah, tampaknya daging ayam tadi siang akan menjadi ayam terakhir yang bisa masuk ke perut saya. Tapi biarlah informasi ini saya simpan sendiri. Saya tidak memberitahu teman lainnya.

Baiklah. Selain tragedi ayam, saya yakin masih banyak keindahan yang bisa saya dapatkan di wilayah terpencil ini.
Load disqus comments

0 komentar