Jumat, 17 Agustus 2018

Kisah Perjalanan ke Papua (2): Apa Arti Indonesia di Puldama?

Papua
Anak-anak Puldama bawa bendera Merah putih

Di distrik Puldama,Yahukimo, Papua, ketika saya menyaksikan anak-anak dengan pakaian seadanya menyanyikan Indonesia Raya dengan suara terbata karena tidak hapal syairnya, mata saya terasa hangat. Saya yang ikut bernyanyi pada saat itu sedikit tercekat. Ada rasa yang campur aduk saya rasakan saat itu.



Anak-anak ini, yang seumur hidupnya berada di daerah terpencil, tidak pernah melihat kendaraan bermotor dan hidup tanpa televisi dan gadget, apakah arti sesuatu yang bernama Indonesia, baginya?

Nando Waebu, anak usia 10 tahun, sepertinya tidak hafal lagu Indonesia Raya. Saya berdiri di sebelahnya. Tapi bibirnya berusaha terbuka mengikuti nyanyian. Berusaha mengikuti kami yang bernyanyi penuh semangat.

Ketika saya tanya, apakah dia tahu tentang Indonesia. "Iya, di Jawa," jawabnya singkat. Apalagi soal Indonesia yang dia tahu? Puskesmas pembantu yang hanya dijaga oleh seorang mantri. Atau kepala distrik yang kadang berkunjung membawa garam, minyak dan micin. Ayahnya bisa membeli kebutuhan itu.

Jika musim hujan, saat pesawat susah mendarat di sana, kebutuhan tersebut harganya bisa sangat melambung. Sebungkus garam bisa mencapai Rp50 ribu. Penduduk juga akan lebih irit menggunakan garam ketika memasak.

Bagi Nando, Indonesia memang belum banyak hadir dalam hidupnya. Dia hanya membayangkan kisah tentang Indonesia sebagai cerita heroik yang terjadi di Jawa. Hidup di atas gunung distrik Puldama yang terpencil, memang tidak menyempatkan kita berfikir tentang sesuatu yang abstrak seperti nasionalisme atau cinta tanah air. Tidak sempat kita berfikir soal apa itu negara dan politik. Yang ada habya ladang dan tanah tempatnya hidup.

Nando hanya mengenal tanah di kampungnya. Mengenal hutan dan alamnya yang liar. Dia akan menjaganya apabila ada orang asing yang coba memasukinya. Sementara soal Indonesia baginya adalah sesuatu yang jauh di Jawa. Saya sedih mendengarnya.

Tapi memang itulah keadaanya. Kampung-kampung di distrik Puldama memang selalu waswas dengan orang asing. Ketika kami berombongan memasuki satu Kampung Bako, sebelum kami masuk, anak-anak mudanya menghadang. Padahal saat itu mereka tahu kami ingin memasang lampu tenaga surya di rumah-rumah secara gratis.

"Kenapa harus banyak orang, bapak?," tanya mereka penuh curiga. Untung saja ada seorang staf kepala distrik yang mendampingi. Sehingga kami bisa leluasa masuk dan melaksanakan tugas.

Kami ingin mengatakan kepada Nando dan seluruh sahabatnya di kampung Bako itu, bahwa mereka juga adalah bagian Indonesia. Karena itulah kini pemerintahan Jokowi berusaha membuat kampungnya terang dengan memasangkan LTSHE. Sebab mereka adalah bagian syah dari Indonesia. Bagian yang sama dengan kita yang hidup di Jawa, Sumatera atau Kalimantan.

Mungkin saja anak-anak atau adik kita belajar dengan buku, tas dan pensil yang disimpan dalam tempat pensil cantik. Iya, kami sempat juga membawanya untuk oleh-oleh anak-anak disana. Buku kami bagikan. Pensil dan pulpen kami bagikan. Kami bahagia, melihat mata anak-anak yang berbinar ketika memegang buku dan pulpen di tangannya.

Tapi begitu kami membagikan tempat pensil, saya melihat wajah kecewa mereka. Begitu kotak plastik bergambar lucu itu diterima, mereka langsung membukanya. Mencari isinya.

"Kenapa hanya bungkusnya saja. Kenapa tidak ada isinya?," tanya mereka heran. Padahal yang kami bagikan memang tempat pensil. Sedangkan pensil, pulpen, penghapus dan rautan kami bagikan terpisah.

Karena kecewa tidak mendapatkan isi di kotak plastik itu, akhirnya tempat pensil yang baru kami bagikan dijadikan bahan main bola. Ditendang-tendang. Tampaknya mereka memang kecewa, mengira kami berbohong hanya memberikan bungkusnya saja. Tanpa isi.

Ah, Nando, jangan lagi kamu fikirkan kami ini suka menipumu. Itu bukan sekadar bungkus Nando. Itu memang tempat pensil.

Tapi itulah. Hidup di pelosok seperti ini tanpa alat komunikasi dan tidak ada akses jalan membuat masyarakatnya mudah curiga dengan orang lain. Apalagi Papua, yang sejak sekian lama kekayaan alamnya dieksploitasi sementara masyarakatnya dibiarkan tidak tersentuh. Terkapar dalam kemiskinan.

Saya jadi ingat, pidato yang disampaikan Presiden Jokowi di depan anggota DPR kemarin. "Ketika saya ke Asmat. Saya mengendong dua anak Papua. Saya melihat masa depan Indonesia disana."

Jokowi sejak lama memperhatikan Papua. Hanya dia Presiden yang berani memasuki Papua sampai ke lokasi-lokasi terpencil. Dia sudah lebih dari delapan kali menengok Papua.

Jalan-jalan dibangun. Irigasi dibuat dan diperbaiki. Sarana transportasi juga diberesi. Namun harus diakui, alam Papua dan penduduk yang tersebar di pelosok bukan perkara mudah untuk dilayani.

Bahkan sekadar untuk meningkatkan rasio elektrifikasi saja, kami harus menembus gunung dan belantara hutan perawan Papua. Sekadar untuk menerangi honai-honai di sana.

Apakah arti Indonesia bagi Nando dan rekan-rekannya? Saya cuma berfikir, perhatian Jokowi kepada Papua semoga bisa memberikan arti. Setidaknya Nando dan anak-anak di Puldama bisa makin mengerti, bahwa mereka adalah bagian penting dari sesuatu yang bernama Indonesia.

"NKRI harga mati, ya mas. Masa mau jadi Cawapres RI harganya cuma Rp 1 triliun," ujar Abu Kumkum.
Load disqus comments

0 komentar