Jumat, 02 November 2018

DI ATAS BAJAJ

Eko Kuntadhi
Eko Kuntadhi
Seputar Monas dan Tanah Abang dilanda kemacetan parah karena ulah para tumbila berselimut agama. Mereka membela selembar kain, yang kadang disengser-engser juga oleh mereka sendiri. Sebagian kain itu dijadikan tatakan duduk, agar pakaiannya gak kotor.

Anak-anak kecil dikerahkan. Remaja yang sedang asyik-asyiknya memamerkan dirinya bangga mengibar-ngibarkan bendera hitam seperti hendak perang. Kapan lagi bisa meledek polisi naik motor tanpa helm kalau bukan disaat berkumpul bersama gerombolan itu.

Perempuan bercadar hitam, dijemur di tengah terik matahari. Anak mereka yang masih balita menangis di gendongan. Sebagian berteduh di bawah pepohonan. Sebagian duduk di troaltoar jalan. Entah apa yang mereka perjuangkan sampai tega menyeret bayinya dalam suasana yang tidak nyaman.

Dari speaker di mobil komando, saya mendengar orator membakar massa. Membawa-bawa nama Tuhan dan Nabi dengan suara keras, seolah Tuhan suka jika disebut namaNya sambil menghardik.

Nama Nabi disebut dengan teriakkan lantang sepertinya cuma ingin menggambarkan bahwa agama ini selalu dihiasi dengan sesuatu yang keras, kasar, penuh teriakan, menghardik dan protes. Dengan cara itulah mereka menyebut Nama kanjeng Rasul. Saya rasa hampir sama dengan cara berceramah sebagian khotib Jumat yang juga jobi teriak-teriak.

Apalah kalau tidak berteriak maka dia tidak beriman?

Polisi memasang kawat berduri untuk barikade. Beberapa kendaraan berat diparkir. Jalan tertutup, yang menyebabkan macet ke seluruh ruas tersambung. Dan saya serba salah berada di antara kemacetan dan rombongan orang yang beranggapan cukup dengan mengibarkan bendera hitam sudah dijamin masuk surga.

Beberapa pilihan tersedia. Tapi dari lima kali ojeg online yang saya pesan, semuanya minta dibatalkan. Taksi tidak ada yang lewat. Akhirnya sama memilih Bajaj.

Nah, ini serunya. Bajak itu bisa meliuk-liuk diantara kemacetan. Supirnya gak terlalu peduli dengan bendera hitam bertuliskan arab. Dia sibuk mencari jalan alternatif karena di semua ruas kemacetan parah terjadi. Ngepot sana. Ngepot sini.

"Gak ikut demo, mas?," saya membuka pembicaraan kepada supir Bajaj.

"Gak pak. Kalau ikut demo, setorannya siapa yang bayar," jawabnya polos.

"Emang lagi demo apaan sih, mas?," tanyaku dengan niat memancing saja.

"Gak tahu tuh. Katanya demo bendera tauhid. Emang tauhid ada benderanya, pak?"

"Mbuh, mas."

"Kalau mereka demo gini, yang kasian kan orang-orang kayak saya ya pak Biasanya sudah dapat setoran. Ini dari pagi baru bawa tiga penumpang. Mereka takut karena ada demo ini."

Saya cuma tersenyum kecut. Kami bicara tidak berhadapan. Dia memunggungi karena harus menyetir kendaraanya. Saya hanya memperkirakan ekspresinya saja. Tapi saya rasa dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada pendemo yang bikin lalu lintas ruwet. Ini terdengar dari suaranya.

Saya tidak tahu berapakah kerugian akibat separuh jalan ruas utama yang ditutup karena selembar bendera HTI? Berapa biaya karena kemacetan, bisnis yang terganggu, waktu yang terbuang dan keamanan yang capek?

Teman saya bilang, jika kebiasaan demo-demo seperti ini sering terjadi, maka investor malas masuk ke Indonesia. Lebih baik memilih Vietnam atau Kamboja. Atau sekalian China.

Vietnam ekonominya maju pesat karena stabilitas politik terjaga. China juga berlari karena pemerintahan yang kuat bahkan tangan besi. Keriwehan kayak gini gak mungkin terjadi di China sekarang. Kalau pun terjadi, harus siap-siap digebuk.

Kini ekonomi kita bergerak lumayan, bisa tumbuh 5%. Inflasi kecil. Infrastruktur disiapkan. Secara umum kita baik-baik saja.

Tapi demo berjilid-jilid sedang dibangun. Keamanan yang rapuh sedang dimainkan. Keamanan yang terganggu pasti membuat ekonomi jadi mahal. Mereka mau ekonomi tumbuh, tapi yang dilakukan malah sebaliknya. Merusak.

Contoh supir Bajaj tadi. Sejak pagi baru ngantongi duit Rp90 ribu. Jauh dari setoran.

"Bener berhenti disini, pak?," ujar supir Bajaj tadi. Dia saya suruh berhenti di sebuah mall. Saya merogoh kantong.

"Wah, mau belanja, nih pak?"

"Gak mas. Saya cuma mau numpang ngadem."

Saya turun, memasuki mall. Mencari kafe lantas memesan teh tarik. Numpang duduk sejam. Menanti senja yang gak pernah indah. Di Jakarta.
Load disqus comments

0 komentar