Sabtu, 10 November 2018

ANAK AMIEN RAIS MELAWAN AHOK

Film
Film
Saya belum nonton film A Man Called Ahok. Apalagi film Hanum dan Rangga. Waktu diajak nonton film soal Ahok kemarin, waktunya bertabrakan dengan konser Guns and Roses. Saya memilih ke GBK ketimbang ke bioskop. Reaksi teman-teman yang sudah nonton, saya rasa campuran antara mengapresiasi film itu dengan kekaguman pada sosok Ahok.

Untuk penilaian pada film sebagai karya seni, mungkin ada semacam bias yang manis. Tapi justru bias penilaian itulah yang menjadi kekuatan AMCA, sehingga ramai-ramai dikunjungi penonton.

Saya yakin sebagian besar penonton film AMCA adalah Ahoker. Mereka bukan hanya ingin menyaksikan film sebagai hiburan. Tapi bisa jadi semacam peneguhan sikap. Bisa juga sebagai ekspresi perlawanan yang terus menerus dan lembut terhadap perlakuan tidak adil kepada Ahok.

Atau semacam peneguhan bahwa mereka, tetap berdiri dan mengagumi Ahok, sekalipun tokoh panutannya itu tidak lagi ada dalam pusaran politik.

Suasana batin penonton yang menyaksikan film AMCA berbeda dengan suasana hati orang yang datang ke bioskop untuk menonton film A Star is Born atau Lala Land. Yang pertama menonton untuk berbagau motivasi yang bercampur. Sementara penonton Lala Land atau A Star is Born membeli tiket bioskop untuk menikmati sebuah film. Ya, hanya untuk menonton film.

Kita tidak harus merasa menjadi bagian pecinta Jazz ketika memilih film Lala Land, misalnya. Atau tidak harus menyukai clasic rock saat menikmati A Star is Born. Kita tidak mengindentifikasi diri kita dengan sebuah komunitas dan punya ikatan dengan mereka.

Sementara para penonton AMCA saya rasa adalah orang yang punya kesamaan, setidaknya kesamaan pandangan pada sebuah peristiwa politik. Dengan dorongan itulah mereka datang ke bioskop.

Apakah salah? Tentu tidak. Sah-sah saja orang punya beragam motivasi menyaksikan sebuah karya seni. Apalagi harus diakui secara marketing tim di belakang AMCA cukup bagus. Menentukan waktu tayang yang pas, di tengah suasana politik yang mulai menghangat, adalah pilihan yang cerdik.

Akan sangat berbeda misalnya, jika film itu diputar ketika Ahok sudah keluar penjara.

Bagaimana soal film Hanum dan Rangga? Mestinya ini hanyalah kisah menye-menye seorang perempuan dan rumah tangganya. Jika saja dinikmati hanya sebagai sebuah film, mungkin kelasnya gak jauh beda dengan film kisah percintaan ala syar'i. Seperti dengan Kau Pinang Aku dengan Bismillah atau Ayat-ayat Cinta 2.

Sayangnya orang di belakang film itu ada Hanum Rais. Tokoh ini baru saja jadi bahan bullyan karena mewek menangisi Ratna Sarumpaet yang babak belur, padahal habis dioperasi plastik. Hanum mendadak kontroversial karena ikut mendramatisir dan berada dalam pusaran hoax.

Akhirnya ada bias Hanum Rais terhadap apresiasi orang pada film Hanum dan Rangga. Ini gak bisa dihindari.

Apalagi, ketika tanggal pemutaran perdana film ini dimajukan yang tadinya 15 November jadi 8 November, sama persis dengan tanggal pemutaran AMCA. Secara sadar H&R ingin berhadap-hadapan dengan AMCA di layar bioskop.

Targetnya sama. Diharapkan orang menonton H&R bukan hanya datang untuk menyaksikan sebuah film. Tetapi ada ideologi ala 212 yang melatarbelakanginya. Ditambah seruan PAN yang mewajibkan kadernya nonton H&R, makin kentara bahwa H&R tidak ingin ditempatkan sebagai sekadar film rumah tangga. Tapi ada bau-bau politiknya.

Yang mereka gak sadar, emang Hanum siapa? Dalam konstalasi demo 212 saja, Hanum bukan siapa-siapa. Dia cuma anak bawang, puteri seorang Amien Rais. Kesannya Hanum dipakaikan baju kedombrongan ketika H&R menggarap emosi 212 untuk menarik penonton. Bukankah ada sebuah film berlatar demo 212 juga gagal di pasaran.

Seandainya H&R dipromosikan biasa saja, gak usah mikirin afiliasi politik penontonnya, mungkin bisa membantu menggaet orang ke bioskop. Emak-emak arisan yang rempong dan butuh hiburan kisah cinta bergenre syar'i atau pelajar dan mahasiswi liqo bisa jadi target pasar.

Gak usah didekat-dekatkan dengan afiliasi politik. Gak usah dihadap-hadapkan dengan AMCA yang memang kontennya bercerita tentang seorang tokoh politik. Perlakukan saja film ini sebagai film menye-menye biasa. Mungkin akan direspon lebih baik.

Sayang pengelola di balik H&R nafsunya terlalu gede. Akibatnya menonton film drama rumah tangga jadi ada rasa horor-horornya. Soalnya gedung bioskop sepi agak menakutkan.

"Mas, saya kok, kasian sama Rio Dewanto, ya," ujar Abu Kumkum. Sungguh saya gak ngerti apa maksud omongan bakul minyak telon oplosan ini.

"Maksudmu apa, Kum?"

"Di film Hanum dan Rangga, Rio berperan sebagai suaminya Hanum. Dia jadi menantunya Amien Rais. Di kehidupan nyata Rio jadi menantunya Ratna Sarumpaet. Kasian, kan."

Oalahh... tukang minyak telon ini, lagaknya sok mengasihani suami Atiqah Hasiholan. "Belagu lu..."

"Yang lebih ngenes Mas Eko, Kum," Bambang Kusnadi menimpali. "Nonton filmnya juga belum, sok bikin ulasan."

Kali ini saya merasa ditampar Bambang Kusnadi.
Read more

Rizieq Sang Bohemian Arab Saudi

Habib Rizieq Shihab
Fahri dan Fadli Zon Kunjungi Habib Rizieq
Entah kenapa Rizieq sampai sekarang gak pulang ke Indonesia. Beberapa kasusnya sudah dinyatakan SP3. Artinya secara hukum kasus itu berhenti, tapi Rizieq rupanya masih betah di Saudi.

Dari Saudi, Imam Besar FPI ini gak berhenti melakukan manuver. Ketika sedang ramai Pilkada 2018 lalu, Rizieq menerima banyak kunjungan. Ada beberapa tamunya yang berharap Rizieq bisa membantu meloloskan niat mereka untuk mendapat rekomendasi partai sebagai calon kepala daerah. Salah satunya adalah La Nyala Mataliti, selebihnya ada empat orang lainnya.

Dengan memegang rekomendasi Rizieq, mereka berharap mendapat tiket dari Gerindra atau PKS. Tapi sial, Rizieq boleh saja tokoh. Seolah-olah dihormati. Namun untuk urusan siapa yang dicalonkan menjadi kepala daerah, rekomendasi Rizieq gak cukup. Bahkan malah gak perlu didengar.

Dari lima calon yang diajukan Rizieq, gak ada satupun yang dimajukan oleh Gerindra dan PKS. Bahkan dalam kasus Pilkada Jawa Timur, menurut informasi dari La Nyalla, Prabowo meminta duit mahar Rp 40 miliar. Ketika gak dipenuhi, nama La Nyalla gak  nongol sama sekali. Artinya mau rekomendasi Rizieq, kek. Mau fatwa Imam Besar, kek. Gak ada urusan. Mahar tetap mahar. Emang Rizieq siapa?

Lalu bergerak ke Pilpres. Bersama beberapa ulama, Rizieq ingin memainkan peranan lagi. Kali ini mencoba menekan Prabowo dengan menggelar acara Ijtimak Ulama. Salah satu hasil Ijtimak Ulama itu adalah rekomendasi Salim Segaf atau Abdul Somad sebagai cawapres pendamping Prabowo. Meski masih di Saudi, nama Rizieq sering dibawa-bawa. Hasan Haikal, misalnya, selalu menisbahkan keputusan Ijtimak Ulama itu sesuai dengan arahan Rizieq.

Tapi lagi-lagi gak dianggap oleh Prabowo. Ulama boleh berijtimak. Boleh mengeluarkan rekomendasi. Gak ada artinya bagi Prabowo. Toh, dia menunjuk Sandiaga Uno sebagai cawapres mendampinginya.

Ketimbang kehilangan muka, karena dicuekin Prabowo, mereka menggelar lagi Ijtimak Ulama II. Apa rekomendasinya? Mendukung pencalonan Sandi. Ulama yang capek-capek menggelar Ijtimak II jelas bertekuk-lutut di bawah kaki Prabowo.

Yang paling aneh adalah tuntutan kepada pemerintah untuk memulangkan Rizieq. Lho, yang kabur dia sendiri. Yang mau ke Saudi dia sendiri. Kenapa jadi pemerintah yang harus capek-capek memulangkan. Kalau mau balik ke Indonesia, balik aja sendiri. Kenapa harus main drama?

Bahkan pernah digelar demo penyambutan kepulangan Rizeiq. Spanduk dan isu beredar. Seolah sebagai seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perjuangan. Padahal dia buron karena kasus kriminal yang menimpanya. Eh, ujung-ujungnya itu hanya berita hoaks.

Prabowo sendiri memanfaatkan isu kepergian Rizieq untuk mendulang suara. Dia pidato, jika terpilih akan membantu kepulangan Rizieq ke Indonesia. Eh, busyet. Capres ini, programnya cuma memulangkan seorang yang kabur.

Yang paling anyar ketika terjadi perdebatan pembakaran bendera hitam oleh Banser. Dari Saudi Rizieq ikut memprovokasi agar semua anggota FPI mengibarkan bendera lambang teroris itu di Indonesia. Dia bilang ini adalah lambang jihad.

Rupanya di Saudi ditemukan bendera yang dia minta kibarkan itu tertempel di rumahnya. Polisi Saudi yang gerah sama simbol-simbol terorisme cepat bertindak. Rizieq diperiksa polisi.

Sebagai warga negara, ketika terkena kasus hukum di luar negeri, KBRI wajib ikut mendampingi. Bahkan KBRI memberikan uang jaminan kepada otoritas Saudi agar Rizieq tidak ditahan.

Tapi apa yang terjadi? Semua teman-teman Rizieq menuding bahwa Rizieq dijebak. Ada intelijen yang memasang bendera itu di rumahnya. Ujung-ujungnya mereka menyerang pemerintah Jokowi lagi.

Padahal Rizieq yang memerintahkan orang mengibarkan bendera itu di Indonesia. Dia juga yang ngeles ketika diinterogasi polisi Saudi.

Kenapa Rizieq ngeles? Karena yang dipasang adalah bendera organisasi teroris. Sama seperti bendera yang dia minta untuk dikibarkan di Indonesia. Tapi mereka membungkusnya dengan kalimat tauhid. Mereka mau memanipulasi kalimat tauhid untuk mengkampanyekan sikap beragama ekstrim.

Tentu saja sekarang Rizieq terkena masalah berat. Apalagi ceramah-ceramahnya seringkali menjelaskan dia adalah pendukung ISIS. Bukti bahwa Rizieq mendukung kaum ekstrimis banyak tersebar. Ini bisa dijadikan senjata pihak keamanan Saudi untuk mengenakan sanksi lebih serius.

Nasib Rizieq kini ada di tangan aparat Saudi. Satu-satunya yang bisa membantu meringankan kasusnya adalah pemerintah Indonesia. Melalui lobi diplomatik, misalnya.

Tapi apa mau dikata. Jangan berterima kasih. Saat KBRI membantu dia dari tangkapan aparat Saudi, dia malah membalas dengan menuding pemerintah.

Seorang teman berkata, gak rela uang pajaknya digunakan untuk melindungi satu orang yang kerjanya tiap hari membuat statemen buruk soal Indonesia. Kabarnya karena kasus Rizieq, KBRI jadi agak repot ketika mau mengurus kasus-kasus WNI lainnya. Sebab Indonesia dianggap banyak maunya. Indonesia dianggap aparat Saudi mau melindungi seorang yang diduga bersimpati pada gerakan teroris.

Ini tentu saja merepotkan. Hanya untuk mengurus seorang Rizieq, efektifitas diplomasi terhadap puluhan TKI yang ditahan di banyak penjara Saudi jadi terhalang.

Apalagi kelakuan gerombolan sejenis di Indonesia yang terus memprovokasi. Mereka menuding pemerintah Indonesia. Pemerintah melindungi Rizieq, salah. Didiamkan apalagi, karena anggap tidak melindungi WNI. Serba salah memang.

Sampai saat ini, Rizieq tetaplah sebagai tokoh dalam kisah Bohemian Arab Saudi.

Tagar.Id
Read more

Dosa Kolektif Terhadap Ahok

Politik
Ahok
Alumni 212 kabarnya akan menggelar aksi reuni yang akan mengundang capres dan cawapres Prabowo dan Sandi. Entah kenapa orang-orang ini ngebet banget memakai momen aksi 212 untuk setiap aktivitas politiknya. Padahal mereka selalu ngotot bahwa aksi itu dulu sebagai bagian dari membela Islam.

Sekarang apa yang mau dibela oleh aksi reuni?

Yang paling menyebalkan justru dengan terus-menerus dieksploitasi aksi 212, semakin menjelaskan bahwa sejak dulu aksi itu memang dibuat bukan untuk membela agama. Aksi tersebut dirancang oleh politisi, untuk memetik manfaat politik, dan mengatasnamakan agama. Mereka kini secara terang-terangan menipu umat Islam untuk tujuan politiknya.

Benar apa yang dikatakan Ahok dulu, "Jangan mau dibohongi pakai ayat."

Sebuah statemen yang membongkar perilaku para politisi penjaja agama yang justru malah menjebloskan Ahok ke penjara. Siapakah yang ngotot menjebloskan itu? Ya, mereka-mereka yang terkena sindiran Ahok. Mereka yang sering membohongi umat dengan mengutip ayat-ayat kitab suci.

Semakin mereka menggelar aksi reuni atau memanfaatkan branding 212 untuk memetik keuntungan politik akan semakin terang benderang juga cara mereka menunggangi agama. Agama yang diturunkan Allah untuk memperbaiki akhlak umatnya oleh mereka ditekuk cuma menjadi keset dari sandal politik yang kotor.

Dulu aksi itu dibungkus untuk membela agama, padahal tujuannya untuk mengalahkan Ahok. Sampai politisi yang dikenal bersih dan punya komitmen kuat kepada rakyat itu harus merasakan dinginnya dinding penjara. Kini aksi reuni alumni 212 mau digelar lagi. Tidak ada kepentingan agama yang mau dibela. Yang ada hanya dukungan pada Prabowo-Sandi.

Artinya sejak dulu sebetulnya bukan agama yang mau dibela. Bukan Islam yang mau diperjuangkan. Tetapi hanya mau menang Pilkada DKI Jakarta dengan memanfaatkan kebodohan umat Islam. Islam dan agama hanya dijadikan alat untuk mendapatkan jabatan politik.

Politik memang kejam. Politik yang membungkus diri dengan agama, apalagi sampai mengorbankan orang yang jika ditelisik hanya terpeleset lidah, adalah dosa kifayah yang harus ditanggung umat Islam Indonesia.

Dipenjaranya seorang Ahok karena desakan aksi-aksi memang bisa dipetik sebagai pelajaran sejarah yang menyakitkan. Umat Islam di Indonesia digiring sedemikian rupa untuk bertindak brutal pada seorang Ahok. Agama dieksploitasi sedemikian sadis untuk menistakan seorang anak bangsa.

Dan sekarang, semua itu terbukti. Mereka menggelar aksi serupa hanya untuk membela Prabowo dan Sandi. Gak ada embel-embel bela Islamnya sama sekali. Wong, kata Yusril Ihza Mahendra, Prabowo itu gak punya track record sama sekali sebagai pembela Islam. Jadi aksi reuni 212 yang bakal mengundang Prabowo Sandi sama seperti aksi tipuan yang mengorbankan umat Islam untuk sekali lagi melakukan kesalahan kolektif. Atas nama agama, umat digiring untuk mempertunjukan kebodohannya.

Dulu kesalahan kolektif dilakukan untuk memenjarakan seorang Ahok dan menaikkan Anies Baswedan ke kursi Gubernur. Umat Islam yang kemarahannya dikapitalisasi oleh para pengasong agama dijadikan senjata untuk memenjarakan seorang Ahok. Sistem hukum terus diprovokasi dan ditekan untuk menampung tudingannya itu.

Mana ada proses hukum di Indonesia yang sedemikian kilat sehingga secepat itu kasus Ahok masuk pengadilan. Ketika mengajukan kasasi keputusannya juga seperti 'mencret', keluarnya lebih cepat bahkan sebelum nongkrong di closed. Dengan kata lain tekanan massa menjadikan sistem hukum kita gagal menegakkan keadilan. Kasus Ahok diperlakukan berbeda dari kasus lainnya.

Kini kesalahan  kolektif dilakukan lagi untuk menyematkan aksi bela Islam sebagai aksi pendukungan pada Prabowo. Entah dilihat dari mana keislaman seorang Prabowo."

Tagar.Id

Read more

Jumat, 09 November 2018

GENDERUWO BERSAFARI DAN HANTU SCOOBY DOO

Politik
Film Scooby Doo
Pernah nonton film Scooby Doo? Bukan. Bukan yang skubidu bambam, skubidu bambam. Itu sih, jenis musik Nasidaria . Tapi ini Scooby Doo yang diambil dari nama seekor anjing mengecut.

Scooby bersama empat temannya biasanya kebagian tugas bagaimana mengusir hantu. Di rumah kosong ada pocong bergentayangan. Atau di sebuah bekas taman bermain.

Demit itu hadir untuk menakuti siapa saja yang masuk ke lingkungan tersebut. Sialnya sebagai anjing menakut, Scooby Doo sering ketiban pulung. Dikejar hantu sampai jumpalitan.

Yang menarik dari film Scooby Doo adalah penjelasan rasional bahwa ada motif di balik setiap peristiwa. Lima sekawan itu akhirnya membongkar irasionalitas hadirnya hantu-hantu tersebut. Menangkapnya dan membeberkan tujuan menakut-nakuti rakyat.

Biasanya yang nyaru jadi hantu adalah penjahat yang tidak menghendaki orang lain berkeliaran di daerah tersebut. Bisa untuk menutupi kebusukannya. Bisa untuk menguasai aset rumah dan gedung. Atau bisa juga ada motif ekonomi lain.

Dia menjadi hantu. Menakuti rakyat dan memetik manfaat dari ketakutan tersebut.

Saya rasa, di Indonesia kini banyak politisi yang masa kecilnya keranjingan nonton Scooby Doo. Dia meniru para penjahat di film itu untuk diterapkan di negeri ini. Kalau rakyat sudah ditakut-takuti dia berharap ketakutan itu akan dimanfaatkan untuk mengkapitalisasi suaranya dalam Pemilu.

Jokowi menyebut perilaku ini sebagai politik Genderuwo. Politik yang suka menakut-nakuti rakyat. Misalnya, menakuti rakyat dengan isu PKI. Menakuti rakyat dengan isu Indonesia akan bubar pada 2030. Menakuti rakyat bahwa orang Boyolali akan diusir kalau masuk ke hotel mewah.

Mereka juga menakuti rakyat dengan bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid.

Ada juga yang menakuti rakyat soal utang pemerintah. Nanti anak cucunya disuruh bayar utang, katanya. Lho, emang Indonesia baru saja berdiri? Kan berdiri sudah lama. Pernah gak, mereka disuruh bayar utang?

Boro-boro mau bayar utang pemerintah, utang rokok di warung tetangga aja kalau ditagih tar-sok. Ini mau sok-sokan mikirin utang negara. Gaya lu.

Tapi hantu tak selamanya menakutkan. Ada hantu lucu juga, yang membisiki nenek-nenek habis dioperasi plastik untuk mengaku habis digebuki. Ada juga hantu yang menakuti umat Islam dengan bendera tauhid. Padahal itu bendera teroris.

"Kalau yang nyuruh kibarkan bendera itu di Indonesia, jenisnya hantu apa dedemit, mas," Abu Kumkum bertanya. Saya sedang tidak bergairah menjawab.

Politik Genderuwo adalah politik film Scooby Doo. Politisi bangke menyaru jadi hantu menakut-nakuti rakyat. Untung saja rakyat kita sudah cerdas. Meski kadang gigi menggigil juga karena ketakutan, ujung-ujungnya penyamaran mereka pasti terbongkar. Seperti hoax yang terbuka ke publik.

Contohnya, ketika hoax Ratna Sarumpaet akhirnya terbeber. Niatnya mau memprovokasi rakyat dengan menyebar isu kengerian bahwa nenek-nenek ditabokin di Bandung. Nyatanya yang didapati cuma nenek genit pasien psikiatri.

Politik Genderuwo sampai sekarang terus dimainkan. Itulah yang membuat Jokowi geram. Wong Indonesia sudah hampir 100 persen terang benderang masa masih mau main hantu-hantu and juga?

Tapi itulah politik. Apalagi menjelang pemilu begini. Ada sebagian orang yang gak punya prestasi kerjanya membuat ketakutan dimana-mana. Maksudnya biar terpilih. Mirip hantu jadi-jadian dalam film Scooby Doo. Emangnya rakyat bodoh, gampang ditakut-takuti dengan hoax begitu?

"Kum, untuk DPRD Depok nanti kamu pilih siapa?," tanyaku iseng kepada Abu Kumkum.

"Saya pilih Prabowo, mas," jawab Kumkum santai.

"Kok Prabowo, sih?," saya heran. "Prabowo bukan untuk DPRD, Kum. Dia itu Capres."

"Ohh, kalau untuk Capres saya pilih Jokowi dong, mas..."
Read more